SEMARANG, Joglo Jateng – Industri garam di Jawa Tengah (Jateng) dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan. Potensinya bahkan ditaksir mencapai nilai ekonomi hingga Rp2 triliun per tahun apabila dikelola secara maksimal.
Hal itu disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, seusai kegiatan Jelajah Potensi Garam Pantura Jateng yang meliputi wilayah Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan Rembang.
“Dari hasil penelusuran di beberapa daerah, kami mendapatkan konfirmasi bahwa potensi industri garam di Jawa Tengah sangat besar. Kami melewati Semarang, Demak, Kudus, Pati, hingga Rembang, dan semuanya menunjukkan potensi luar biasa,” ujar Abdul Kholik di Kantor DPD RI, Rabu (8/10/25).
Menurutnya, produksi garam di Jawa Tengah saat ini baru mencapai sekitar 530 ribu ton per tahun, padahal jika dioptimalkan bisa meningkat hingga 1,3 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan nasional sekitar 3,6 juta ton, posisi Jawa Tengah berpeluang menjadi salah satu daerah utama penyumbang swasembada garam nasional.
“Kalau Jawa Tengah bisa memenuhi kebutuhan itu, potensi pendapatan daerahnya bisa mencapai Rp 2 triliun, dengan perputaran ekonomi dan keuntungan sekitar Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun,” jelasnya.
Abdul Kholik menegaskan pentingnya dukungan pemerintah provinsi dalam mengembangkan sektor garam sebagai salah satu industri unggulan daerah. Ia juga menilai penguatan sektor ini sejalan dengan target pemerintah mewujudkan swasembada garam pada 2027.
Aspirasi yang dihimpun selama kunjungan ke Rembang, Pati, dan Demak akan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas pemerintah daerah dan kementerian terkait.
“Pada level daerah, kami akan mendorong koordinasi dengan pemda untuk mengatasi persoalan di sektor hulu, terutama yang dihadapi para petambak,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kebijakan nasional yang berpihak pada petani garam.
“Pada level kebijakan nasional, kita akan terus mendorong pemerintah konsisten untuk tidak impor garam dan menuju swasembada garam,” tegasnya.










