PWNU Jateng: Pesantren Jauh Lebih Siap Kelola Makan Bergizi Gratis, Tak Pernah Ada Kasus Keracunan

Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin (tengah), didampingi jajaran pengurus, memberikan keterangan pers mengenai kesiapan pesantren dalam mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor PWNU Jateng, Semarang, Senin (13/10/2025). (HUMAS/JOGLO JATENG)

PWNU Jawa Tengah pun mengusulkan agar ada program khusus MBG yang didedikasikan untuk pesantren, tentunya tanpa mengubah standar gizi dan akuntabilitas yang telah ditetapkan pemerintah, mengingat program ini menggunakan dana APBN.

Terkait standar gizi dengan anggaran Rp10.000 per porsi, Gus Rozin optimistis pesantren dapat menyajikan menu yang sangat baik. “Di pesantren saya misalnya, satu kali makan itu maksimal Rp3.400. Jadi dengan bujet Rp10.000 ini sudah sangat bagus untuk mendukung gizi santri,” terangnya.

Ia juga menepis keraguan terkait kapasitas. Pesantren besar seperti Sarang di Rembang atau Tegalrejo di Magelang, yang memiliki 15.000 hingga 20.000 santri, bisa setara dengan empat program MBG sekaligus dalam satu lokasi.

“Selama ini tanpa MBG, tidak ada yang keracunan. Konkretnya, kami menawarkan ada satu paket khusus dengan mekanisme tertutup untuk MBG pesantren. Karena yang terbiasa melakukan katering harian dalam jumlah besar itu kan tidak banyak, seperti katering tentara, polisi, dan pondok pesantren,” pungkasnya. (hms/rds)