Strategi pendekatannya pun sangat personal. Jika ada keluarga yang menolak, tim tidak patah arang. Mereka tetap mendatangi, memberikan PMT, dan terus memberikan edukasi.
Perlahan tetapi pasti, usaha mereka membuahkan hasil. Setidaknya 10 anak telah berhasil keluar dari status stunting. Salah satu kisah yang paling berkesan adalah tentang seorang anak penderita sindrom jantung.
“Anaknya awal lahir itu normal, 4 kg. Tapi sejak umur tiga bulan, tubuhnya mengecil, hanya kepalanya yang membesar. Umur 10 bulan, berat badannya hanya 4 kg. Orang tuanya sempat percaya pada mitos dan hampir menyerah, tapi ibunya terus berusaha,” ceritanya.
Berkat pendampingan khusus dan pemberian PMT yang konsisten, perlahan kondisi anak itu membaik. Saat umur 22 bulan, berat badannya sudah mencapai 11 kg.
“Dulu orang tuanya, terutama ayahnya, menolak. Sekarang, justru ayahnya yang aktif dan mau berfoto bersama saat ada kegiatan PMT,” ucap Ana dengan senyum sumringah.
Sementara Ana dan tim bergerak di lapangan, dari Balai Desa Kluwut, Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa Kluwut, Muniroh memantau Pusat Operasi Penurunan Stunting (POPS) yang berfungsi sebagai sistem integrasi data yang memantau perkembangan balita, ibu hamil hingga calon pengantin.
“Dulu data stunting kami berantakan, tersebar di berbagai lembaga. Sekarang semua terintegrasi lewat POPS,” katanya.
POPS menjadi bank data terpadu yang mengonsolidasikan informasi dari berbagai sumber. Utamanya, data dari aplikasi EPPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) untuk Posyandu, catatan dari bidan, serta hasil pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari DP3KB disatukan dalam satu platform.
“Di POPS ini, data balita normal dan bermasalah ada semua. Mulai dari calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu nifas hingga anak balita, terutama yang stunting, semuanya terpantau di sini,” imbuhnya.
“Keuntungan POPS, bantuan dari dinas bisa tepat sasaran. Mau bagi sembako, beras, atau telur, tinggal lihat data di sini,” tambah Muniroh.










