Meski telah menunjukkan kemajuan, perjalanan masih panjang. Angka stunting yang fluktuatif menjadi tantangan tersendiri. Dari 220 kasus pada 2019, sempat turun drastis ke 143 pada 2023. Setelah intervensi, sempat turun lagi ke 198, namun kembali naik.
“Faktor penyebabnya kompleks. Mulai dari pola asuh, pola makan, perkawinan muda hingga rendahnya tingkat pendidikan,” ujar Muniroh.
Tetapi kedua pejuang ini tak menyerah. Kini, POPS dan Rumah Anak SIGAP telah menjadi contoh praktik baik bagi penanganan stunting berbasis desa. Bahkan, beberapa waktu lalu rombongan dari Sulawesi datang langsung ke Rumah Anak SIGAP Kluwut untuk melakukan studi tiru.
“Desa lain mulai belajar ke sini. POPS jadi model untuk integrasi data, sementara Rumah Anak SIGAP jadi model perubahan perilaku,” tandasnya.
Kolaborasi antara POPS sebagai otak strategis dan Rumah Anak SIGAP sebagai jantung gerakan ini membuktikan bahwa penanganan stunting membutuhkan pendekatan komprehensif yang memadukan ketepatan data dengan pendekatan manusiawi di lapangan.
Inisiatif dari Tanoto Foundation ini menunjukkan bagaimana pendampingan yang terintegrasi dapat menciptakan solusi berkelanjutan dalam penanganan stunting.
Perjuangan para perempuan pejuang gizi ini terus berlanjut demi masa depan anak-anak Desa Kluwut yang lebih sehat dan berkualitas. (luk/adf)










