Dalam kesempatan tersebut, BI Jateng juga menyerahkan bantuan geomembran kepada empat kelompok petani garam di Demak, Jepara, Pati, dan Rembang. Bantuan itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi garam lokal.
“Bantuan ini membangun kekuatan UMKM sektor makanan dan minuman. Tujuannya menjaga inflasi tetap rendah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengapresiasi kolaborasi BI dan DKP Jateng. Ia menilai, pengendalian inflasi harus diiringi perubahan pola konsumsi masyarakat.
“Jawa Tengah ini lumbung pangan, tapi sering terombang-ambing oleh inflasi. Potensi perikanan kita besar, tinggal bagaimana membiasakan masyarakat untuk gemar makan ikan,” ujarnya.
Menurut Sumarno, ikan lebih sehat dibanding daging dan telur karena mengandung protein tinggi serta omega-3 yang baik bagi otak dan jantung.
“Gerakan gemar makan ikan ini butuh kolaborasi antara pemerintah, orang tua, dan anak-anak,” imbuhnya.
Kepala DKP Jateng Endi Faiz Efendi menambahkan, produksi ikan di Jawa Tengah mencapai hampir 900 ribu ton per tahun, terdiri dari 500 ribu ton hasil budidaya dan 400 ribu ton tangkapan laut. Namun konsumsi ikan masyarakat Jateng baru 40,14 kilogram per kapita per tahun, masih di bawah rata-rata nasional 60 kilogram.
“Masih banyak yang menganggap makan ikan bikin kolesterol atau cacingan. Padahal, satu gram ikan mengandung protein lebih tinggi dari ayam maupun telur,” jelas Endi.
DKP Jateng terus mendorong nelayan kecil meningkatkan produktivitas melalui pelatihan alat tangkap ramah lingkungan dan edukasi pascapanen agar hasil tangkapan tetap berkualitas. (luk/iza)










