Figur  

Jadikan Organisasi sebagai Madrasah Peradaban

Ketua PMII Komisariat Sunan Kudus, Abdullah Kafabih. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

BAGI Abdullah Kafabih, Ketua PMII Komisariat Sunan Kudus, organisasi bukanlah wadah formal yang hidup dari struktur semata, melainkan madrasah peradaban tempat kader tumbuh melalui pengalaman, nilai, dan kebersamaan.

Lahir di Jepara, 14 Maret 2003, Abdullah tumbuh di lingkungan pesantren yang sarat nilai religius. Dari Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, ia belajar arti ketekunan dan keikhlasan. Nilai-nilai itu kini ia bawa dalam setiap langkah kepemimpinannya di dunia pergerakan mahasiswa.

Sebagai mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI), Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kudus, Abdullah dikenal sebagai sosok yang sistematis dalam berpikir, santun dalam bersikap, dan tegas dalam prinsip. Ia telah melalui perjalanan panjang organisasi, mulai dari OSIS, HMPS, hingga PMII. Kini, di bawah kepemimpinannya, PMII Komisariat Sunan Kudus tengah memasuki babak baru: konsolidasi nilai dan penguatan semangat kolaborasi.

“Pergerakan tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kesadaran yang terus dihidupkan,” katanya.

Filosofi itu tampak dalam cara ia memimpin. Abdullah tidak sekadar mengarahkan, tetapi mengajak. Tidak hanya menuntut, tetapi menumbuhkan. Bagi kader PMII, ia adalah sosok yang membumikan idealisme melalui tindakan nyata.

Di bawah komandonya, organisasi tidak hanya berbicara program, tetapi juga nilai. Forum-forum diskusi kembali dihidupkan, ruang gagasan dibuka selebar-lebarnya, dan kader didorong untuk berpikir kritis tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

“Ketika organisasi hanya hidup karena struktur, maka ia akan mati bersama berakhirnya masa jabatan. Tapi ketika organisasi hidup karena nilai, maka ia akan bertahan sepanjang zaman,” tuturnya.

Baginya, menjadi pemimpin bukan soal siapa yang paling didengar, tetapi siapa yang paling mampu mendengar. Ia percaya, dari dialog lahir pemahaman, dan dari pemahaman lahir kekuatan pergerakan yang sejati.

Jejak langkahnya menunjukkan bahwa kader sejati bukanlah yang mencari panggung, melainkan yang menyalakan cahaya. Ia meyakini, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang dijaga bersama.

“Pergerakan ini bukan milik satu nama, bukan milik satu generasi, dan bukan pula milik satu periode. Ia adalah napas panjang perjuangan yang harus terus dijaga. Di PMII, kita belajar bukan hanya menjadi cerdas, tapi juga menjadi manusia yang mengerti arah,” pungkasnya. (Uma/iza)