Belajar Membuat Pizza
Salah satu kegiatan menarik dalam program ini adalah pelatihan memasak pizza. Santri didampingi juru masak profesional untuk mempelajari proses pembuatan pizza, mulai dari menyiapkan adonan, penggunaan tungku pemanas, hingga penyusunan topping.
Uniknya, seluruh bahan seperti bawang bombay, saus, sosis, dan bakso dibawa langsung oleh santri dari rumah. Juru masak pizza, Arfi Cahya Fetrianto mengatakan, para santri diberi kebebasan berkreasi.
“Masing-masing santri memilih topping sendiri dan mengikuti proses pembuatannya,” kata Arfi.
Abdul Muis menegaskan, kegiatan memasak ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari pembelajaran karakter. “Melalui kegiatan ini, santri diajak untuk berlatih bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap kegiatan yang mereka lakukan,” jelasnya.
Selain Santri Camp, Madrasah Budaya Pungkuran juga memiliki program pengembangan minat bakat lainnya. Mulai dari madrasah musik, seni lukis, teater, jurnalistik digital, public speaking, hingga pembelajaran bahasa Inggris.
Program seperti ini diharapkan mampu menanamkan kemandirian dan pengalaman sosial bagi anak-anak yang terbiasa tinggal bersama orang tua. Dengan demikian, pendidikan pesantren tidak hanya mencetak generasi yang paham agama, tetapi juga terampil dan mandiri. (ags/gih)










