PATI, Joglo Jateng — Hamparan lahan budidaya ikan yang biasanya terlihat produktif kini berubah menjadi lautan air keruh di wilayah Kecamatan Tayu. Bencana banjir Pati rendam tambak di Desa Tunggulsari ini menyebabkan ratusan hektare lahan budidaya ikan nila salin terancam gagal panen total.
Kondisi ini memukul telak sektor perekonomian warga setempat. Pasalnya, mayoritas penduduk menggantungkan hidupnya dari hasil panen komoditas unggulan di Bumi Mina Tani tersebut.
Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi mengungkapkan data kerusakan yang cukup masif. Dari total luas lahan tambak sebesar 160 hektare, mayoritas kini sudah tidak terlihat batas pematangnya karena tertutup air.
”Dampak budidaya ikan nila salin pastinya mengalami kerusakan parah. Dari 160 hektare, yang sudah terdampak 100 hektare. Artinya di atas 60 persen wilayah tambak terdampak musibah banjir tahun ini,” ungkap Setyo.
Ekonomi Warga Terancam Lumpuh
Setyo menjelaskan, sekitar 90 persen masyarakat di desanya berprofesi sebagai petani tambak. Dengan terendamnya lahan usaha mereka, roda ekonomi desa praktis berhenti berputar dalam sepekan terakhir.
”Secara ekonomi ini lumpuh. Seminggu ini aktivitas di tambak petani tidak bisa maksimal. Mereka hanya bisa berupaya memasang waring (jaring pengaman) supaya ikan-ikan tidak lepas hanyut terbawa arus,” terangnya.
Upaya pemasangan waring tersebut menjadi satu-satunya langkah darurat yang bisa dilakukan, meski efektivitasnya terbatas mengingat debit air yang terus meninggi.
Modal Besar Hanyut Jelang Panen
Dampak finansial dari musibah ini tidak main-main. Jika dikalkulasi secara kolektif, kerugian yang diderita para petani tambak di Desa Tunggulsari ditaksir mencapai Rp 5 miliar.
Angka kerugian ini membengkak karena momen banjir terjadi justru saat ikan nila salin memasuki masa siap panen. Petani telah mengeluarkan modal besar untuk pakan dan perawatan selama berbulan-bulan, namun hasil yang diharapkan justru lenyap.
”Kerugian tidak sedikit. Ada petani yang tinggal beberapa saat lagi panen, tapi airnya kemana-mana. Kalau airnya penuh itu pasti kerugian makin besar karena pakan yang digunakan sudah banyak, tetapi belum bisa dipanen,” pungkasnya. (lut/fat)








