SEMARANG, Joglo Jateng – Kawasan Kampung Batik Semarang kini resmi memiliki fasilitas workshop baru yang mulai dioperasikan pada Minggu (25/1/2026). Peresmian ini menandai babak baru pengembangan kawasan tersebut sebagai sentra produksi, edukasi, sekaligus pusat pelestarian batik khas Kota Atlas.
Suasana di lokasi kini tampak lebih rapi dan cantik dengan adanya ruang pamer yang layak serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL) khusus. Fasilitas ini disiapkan untuk mendukung para perajin dalam memproduksi batik berkualitas tinggi yang lebih modern namun tetap berpijak pada nilai sejarah.
Fokus pada Batik Pewarna Alami
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang khusus untuk mendorong penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan. Langkah ini diambil agar produk dari Kampung Batik memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih kuat di pasar nasional maupun internasional.
“Workshop ini memang diniatkan untuk produksi batik dengan pewarna alami. Jadi bukan hanya kain batik biasa, tapi batik yang ramah lingkungan dan punya nilai lebih,” kata Agustina saat peresmian di Semarang, Minggu (25/1/2026).
Kado 20 Tahun dan Rencana Museum Batik
Revitalisasi workshop ini menjadi momentum spesial bagi kawasan yang telah berdiri sejak tahun 2006 tersebut. Agustina menyebut peresmian ini sebagai kado 20 tahun bagi para pelaku ekonomi kreatif di sana agar bisa tumbuh lebih mandiri dan berkelanjutan.
Selain sebagai tempat produksi, Pemkot Semarang berencana mengembangkan kawasan ini menjadi destinasi wisata edukasi melalui kehadiran museum batik. Museum tersebut nantinya akan menampilkan replika batik Semarang peninggalan awal abad ke-19.
“Tadi kami bertemu dengan tokoh yang paham sejarah batik Semarang sejak tahun 1800-an. Ini akan kita angkat kembali supaya generasi sekarang tahu sejarah panjang batik kita,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah untuk Promosi
Pemerintah Kota Semarang berkomitmen untuk terus memperkuat daya tarik kawasan ini melalui berbagai skema promosi. Tujuannya adalah memastikan wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman saat berbelanja.
“Tugas pemerintah adalah meng-endorse, supaya pelancong datang, belanja dengan aman dan nyaman, lalu kembali lagi ke sini,” pungkas Agustina. Melalui integrasi kreativitas dan sejarah, Kampung Batik diharapkan menjadi ikon budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara terpadu. (hfh/gih)










