PATI, Joglo Jateng – Ancaman penyakit leptospirosis atau kencing tikus menghantui warga Kabupaten Pati di tengah bencana banjir yang belum sepenuhnya surut. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat, hingga kini terdapat 35 kasus warga terkonfirmasi positif terjangkit, dengan empat di antaranya meninggal dunia.
Kasus mematikan ini tersebar di sejumlah wilayah yang terdampak genangan air cukup lama. Sebaran kasus teridentifikasi di Kecamatan Juwana, Jaken, Margoyoso, Trangkil, Dukuhseti, Batangan, dan Wedarijaksa. Kondisi lingkungan yang lembap pasca banjir menjadi sarang ideal bagi penyebaran bakteri.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Pati, Yanti mengungkapkan, penyakit ini memang kerap muncul saat atau pasca banjir. Penyebab utamanya adalah infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus.
”Banjir sampai sekarang ada 35 kasus (leptospirosis). Kemudian kematian ada 4. Jadi ini menjadi penyakit yang perlu diwaspadai apalagi pasca banjir,” tegas Yanti.
Bakteri Bertahan 6 Bulan
Yanti memaparkan fakta medis yang perlu diwaspadai warga. Bakteri Leptospira ternyata mampu bertahan hidup tiga hingga enam bulan di lingkungan lembap. Durasi hidup bakteri ini bahkan bisa lebih lama jika berada di genangan air banjir yang tidak mengalir.
Bakteri ini masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, kulit yang lecet, atau selaput lendir saat seseorang beraktivitas di air tercemar. Warga diminta peka terhadap gejala awal yang muncul, antara lain:
- Demam tinggi
- Sakit kepala
- Mata merah
- Tubuh lemas
- Nyeri hebat pada betis
Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut yang ditandai dengan kulit dan mata menguning. Kondisi inilah yang berpotensi menyebabkan kematian.
”Menjadi gagal ginjal akut yang lama-kelamaan menyebabkan kematian. Kalau diobati secara dini bisa mencegah kematian,” terangnya.
Sebar Deterjen Ramah Lingkungan
Merespons status waspada ini, Dinkes Pati telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk melakukan langkah pencegahan masif. Salah satunya dengan menyalurkan disinfektan berupa deterjen ramah lingkungan ke wilayah-wilayah terdampak banjir.
”Deterjen bisa membunuh bakteri. Karena bakteri leptospirosis bisa bertahan lama, tiga bulan sampai enam bulan,” jelasnya.
Selain intervensi pemerintah, masyarakat diimbau menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sepatu bot saat beraktivitas di genangan air. Warga juga wajib menutup luka terbuka, serta mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah kontak dengan air banjir.
Sebagaimana diketahui, banjir mulai melanda Kabupaten Pati sejak awal Januari lalu. Hingga kini, puluhan desa di Bumi Mina Tani tercatat masih terendam banjir yang memicu risiko kesehatan lingkungan. (lut/fat)










