Cegah Bahaya Cyberbullying, MI Darul Falah Kudus Ajak 104 Siswa Nonton Film Edukasi

Ratusan siswa MI Darul Falah Kudus bersiap menonton film edukasi tentang cyberbullying.
NOBAR: MI Darul Falah, Kecamatan Bae melakukan kegiatan outing class nonton film Cyberbullying pada Sabtu, (31/1). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sebanyak 104 siswa kelas 5 dan 6 MI Darul Falah, Kecamatan Bae, tampak antusias mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kelas, Sabtu (31/1/26). Bukan sekadar rekreasi, ratusan siswa didampingi enam guru tersebut diajak menonton film edukatif untuk memahami bahaya cyberbullying dan pentingnya menjaga empati di dunia maya.

Kegiatan outing class ini menggunakan angkutan umum menuju lokasi pemutaran film. Langkah ini diambil pihak sekolah sebagai respons adaptif terhadap perkembangan teknologi dan pola interaksi anak yang kian lekat dengan gawai.

Respons Kasus di Grup WhatsApp

Kepala MI Darul Falah, Nor Halim menjelaskan, pendidikan karakter saat ini menghadapi tantangan baru berupa perundungan digital. Hal ini dipicu oleh banyaknya siswa sekolah dasar yang sudah memiliki ponsel pribadi dan membuat grup percakapan di aplikasi WhatsApp atau media sosial lainnya.

“Beberapa waktu lalu, ada kasus anak-anak kelas 6 yang saling mengejek di grup tanpa diketahui guru atau orang tua. Hal ini membuat kami merasa perlu memberikan edukasi sedini mungkin,” tuturnya.

Menurut Halim, cyberbullying memiliki dampak yang lebih berbahaya dibandingkan perundungan konvensional. Sifatnya yang tidak mengenal batas ruang dan waktu membuat jejak digital bisa menyebar viral dalam sekejap.

“Di era digital ini, kata-kata yang diketik dalam hitungan detik bisa meninggalkan luka yang membekas seumur hidup,” tegasnya.

Tanamkan Etika dan Empati Digital

Melalui media film, para siswa diajarkan tentang empati digital, etika berinteraksi di media sosial, serta batasan kebebasan berekspresi. Tujuannya agar siswa paham bahwa di balik setiap akun online, terdapat manusia nyata yang memiliki perasaan.

“Pendidikan seperti ini membantu anak-anak memahami bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menghujat, dan setiap tindakan online memiliki konsekuensi,” jelas Halim.

Pihak sekolah memastikan kegiatan ini tidak membebani wali murid. Biaya transportasi dan tiket bioskop telah dianggarkan dalam biaya daftar ulang semester, sehingga siswa tidak dipungut biaya tambahan.

Halim berharap, kegiatan ini menjadi investasi kesehatan mental bagi siswanya di masa depan. Dengan memahami risiko perundungan digital, siswa diharapkan mampu memutus mata rantai cyberbullying di lingkungannya. (uma/fat)