Kudus  

Anggaran KONI Kudus Dipangkas 50 Persen, Bonus Atlet Porprov Terancam Mundur 2027

Ketua KONI Kudus, Sulistyanto, memberikan keterangan terkait keterbatasan anggaran olahraga tahun 2026.
‎‎Ketua KONI Kudus, Sulistyanto. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Keterbatasan anggaran daerah pada tahun 2026 memberikan dampak serius bagi dunia olahraga di Kabupaten Kudus. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus memastikan adanya potensi penundaan pencairan bonus bagi atlet berprestasi pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.

Ketua KONI Kudus, Sulistyanto mengungkapkan, realisasi anggaran yang jauh dari usulan awal menjadi penyebab utama kondisi ini. Hal tersebut memaksa induk organisasi olahraga di Kota Kretek ini untuk memutar otak dalam mengatur pos pengeluaran.

Realisasi Anggaran Hanya 50 Persen

Sulistyanto menjelaskan, sebelumnya KONI Kudus telah mengajukan usulan anggaran sebesar Rp 15 miliar kepada pemerintah daerah. Angka tersebut dihitung berdasarkan kebutuhan pembinaan cabang olahraga (cabor), persiapan kontingen, hingga alokasi bonus medali.

Namun, setelah proses verifikasi, dana yang disetujui hanya separuhnya.

”Dengan anggaran yang hanya Rp 7,5 miliar, kami harus benar-benar berhitung. Padahal saat ini sudah masuk fase krusial persiapan Porprov,” ujarnya, Rabu (4/2/26).

Minimnya anggaran ini memaksa KONI melakukan efisiensi ketat. Penyaluran dana pembinaan ke setiap pengurus cabor tidak bisa dilakukan secara maksimal dan harus menerapkan skala prioritas yang ketat.

Bonus Kemungkinan Cair 2027

Dalam kondisi ini, KONI Kudus memilih untuk memprioritaskan program pembinaan dan persiapan teknis pertandingan agar target prestasi di Porprov tidak meleset. Konsekuensi pahitnya, apresiasi finansial bagi atlet harus ditunda.

”Bonus atlet Porprov yang seharusnya menjadi hak mereka belum bisa dicairkan di tahun yang sama. Kemungkinan besar baru bisa direalisasikan pada tahun 2027,” jelas Sulistyanto.

Ia menyadari kebijakan ini menjadi tantangan berat dalam menjaga moral atlet. Selama ini, bonus merupakan bentuk apresiasi nyata atas keringat dan kerja keras mereka di arena pertandingan.

Kendati demikian, Sulistyanto meminta para atlet tetap profesional. Ia berjanji akan terus menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah agar ada solusi atau tambahan dukungan di masa mendatang.

”Kami berharap para atlet tetap semangat berlatih dan berjuang membawa nama Kudus. Ke depan, kami juga berharap ada perhatian dan dukungan anggaran yang lebih memadai dari pemerintah,” pungkasnya. (adm/fat/rds)