Pati  

Potret Toleransi di Pati: Warga Lintas Agama Gotong Royong Bersihkan Patung Dewa Usia 300 Tahun

KERUKUNAN: Warga lintas agama membersihkan Klenteng Hok Tik Bio di Kabupaten Pati, Jumat (6/2/26). (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Pemandangan menyejukkan terlihat di Klenteng Hok Tik Bio Kabupaten Pati, Jumat (6/2/26). Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577, kegiatan bersih-bersih tempat ibadah tri dharma tersebut turut melibatkan warga lintas agama sebagai wujud nyata toleransi.

Tradisi bersih-bersih ini dilakukan untuk menyucikan rupang atau patung dewa serta area klenteng sebelum perayaan puncak. Keterlibatan masyarakat non-Konghucu dalam kegiatan ini menjadi simbol kuatnya kerukunan di Bumi Mina Tani.

Ketua Klenteng Hok Tik Bio Pati, Eddy Siswanto mengungkapkan, kegiatan gotong royong lintas iman ini bukan hal baru. Pihaknya rutin menggelar agenda serupa setiap tahun menjelang pergantian tahun baru Imlek.

“Imleknya Cap Ji Gwek, tanggal 12 bulan 12 Imlek, menjelang tahun baru Imlek 2577. Setiap tahun Klenteng Hok Tik Bio selalu mengadakan bersih-bersih sebelum Imlek,” katanya di sela-sela kegiatan.

Simbol Kerukunan Umat

Eddy menekankan bahwa pintu klenteng selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini. Hal ini dilakukan untuk merawat keberagaman dan persaudaraan.

“Klenteng selalu mengajak antarumat beragama untuk ikut serta. Ini sebagai bentuk kebersamaan dan toleransi,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah patung dewa (Kongco) yang disakralkan diturunkan dari altar untuk dibersihkan. Beberapa di antaranya adalah Kongco Hok Tek Cheng Sin, Ma Co, Kwan Im, hingga Kwan Tee Koen.

Sebelum proses pembersihan dimulai, pihak pengurus klenteng terlebih dahulu melakukan ritual doa khusus memohon izin dan kelancaran.

Rawat Patung Berusia 3 Abad

Selain nilai toleransi, kegiatan ini juga mengungkap fakta sejarah menarik mengenai artefak yang ada di Klenteng Hok Tik Bio. Eddy menyebut, beberapa patung yang dibersihkan memiliki usia yang sangat tua dan nilai historis tinggi.

Perawatan benda-benda pusaka ini dilakukan secara hati-hati dan turun-temurun untuk menjaga keasliannya.

“Ada yang hampir 300 tahun. Patung itu bukan dari awal klenteng ini berdiri tahun 1875, tapi dari Lasem, diwariskan turun-temurun karena tidak bisa dirawat,” pungkasnya. (lut/fat/rds)