KUDUS, Joglo Jateng – Di balik hingar-bingar dunia sepak bola lokal bersama Persiku Kudus, Mutiara (24) memiliki jiwa yang teguh pada kelembutan budaya Jawa. Perempuan muda ini merupakan anomali yang menarik; ia mampu memadukan dinamika pekerjaan lepas di klub sepak bola kebanggaan warga Kudus dengan dedikasi tinggi sebagai penari tradisional.
Kecintaan Mutiara pada seni tari bukanlah cerita satu malam. Totalitasnya teruji waktu. Terhitung sudah 21 tahun atau lebih dari dua dekade, ia menggeluti gerak tubuh ritmis ini. Bermula dari bangku Taman Kanak-kanak (TK), hobi itu tumbuh subur hingga mengantarkannya meraih gelar sarjana di Jurusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Semarang (UNNES).
“Dari kecil memang sudah suka tari. Tidak ada alasan khusus, tapi berbudaya itu seru. Menari itu menyenangkan,” ungkap Mutiara dengan mata berbinar, baru-baru ini.
Dukungan Penuh Orang Tua
Perjalanan panjang Mutiara di dunia seni tidak lepas dari support system keluarga. Ia mengaku, ketertarikannya muncul secara alami sejak kecil, namun peran orang tua yang memberi restu membuat langkahnya kian mantap.
Sejak SD hingga SMA, ia tak pernah absen mengikuti ekstrakurikuler tari. Konsistensi ini bukan hal mudah bagi anak muda zaman sekarang yang sering berganti minat.
“Saya tertarik, orang tua mendukung. Jadi berjalan bersama,” ujarnya.
Pilihan mengambil jurusan pendidikan seni saat kuliah pun didasari visi mulia. Ia tidak hanya ingin menjadi penampil di atas panggung, tetapi juga ingin menjadi pewarta budaya bagi generasi selanjutnya.
“Saya ambil pendidikan seni karena ingin mengajar juga. Jadi bukan hanya menari, tapi bisa berbagi ilmu,” jelas alumni UNNES tersebut.
Antara Persiku dan Kopi
Di luar panggung tari, Mutiara adalah sosok pekerja keras. Selain mengelola sebuah toko, ia tercatat aktif sebagai pekerja lepas (freelancer) di lingkungan Persiku Kudus. Kesibukan di dunia olahraga yang maskulin tidak lantas melunturkan keanggunannya sebagai penari.
Untuk menjaga keseimbangan hidup (work-life balance), Mutiara memiliki cara sederhana. Ia mengaku bukan tipe anak muda yang gemar “nongkrong” berlama-lama tanpa tujuan.
“Paling ngopi saja sambil membaca,” tuturnya santai.
Bagi Mutiara, menari adalah rumah untuk pulang. Meski lelah bekerja, seni memberikan kepuasan batin yang tidak ternilai materi. “Menari itu kepuasan. Dari seni, saya belajar mencintai budaya sendiri,” pungkasnya. (adm/iza/rds)










