JEPARA, Joglo Jateng – Menjelang bulan suci Ramadan 1447 H, “lampu kuning” menyala bagi emak-emak di Kabupaten Jepara. Sejumlah komoditas pangan utama di pasar tradisional mengalami lonjakan harga gila-gilaan dalam sepekan terakhir.
Kenaikan paling drastis terjadi pada komoditas cabai rawit merah yang kini menembus angka Rp 85.000 per kilogram, serta daging ayam potong yang melonjak akibat tingginya permintaan untuk tradisi ruwahan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pantauan di Pasar Satu Jepara pada Kamis (12/2), Nur Khayati, salah satu pedagang sayur mayur mengungkapkan, kenaikan harga sudah terasa sejak satu minggu terakhir.
“Kenaikannya sudah sekitar seminggu ini. Paling tinggi cabai rawit merah, dari Rp 60 ribu sekarang sudah Rp 85 ribu per kilogram,” ujar Nur Khayati di lapaknya.
Rincian Kenaikan Harga Bumbu Dapur
Selain rawit merah, berbagai jenis cabai dan bawang juga kompak merangkak naik. Berikut rincian kenaikan harga di Pasar Satu Jepara:
- Cabai Rawit Merah: Naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 85.000/kg.
- Cabai Rawit Putih: Naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 55.000/kg.
- Cabai Merah Keriting: Naik dari Rp 25.000 menjadi Rp 40.000/kg.
- Bawang Merah: Naik dari Rp 30.000 menjadi kisaran Rp 50.000–Rp 60.000/kg.
- Telur Ayam: Naik dari Rp 27.000 menjadi Rp 30.000/kg.
- Minyakita: Naik tipis dari Rp 18.000 menjadi Rp 19.000/liter.
Nur Khayati menilai, lonjakan ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni tingginya permintaan jelang puasa dan faktor cuaca ekstrem (musim hujan) yang mengganggu pasokan dari petani.
Hal senada diungkapkan Wahyuwinarti, pedagang di Pasar Welahan. Ia mencatat kenaikan bawang merah mencapai Rp 38.000 per kilogram. “Bawang merah biasanya Rp 31-32 ribu jadi Rp 37-38 ribu per kilogram. Kalau bawang putih masih stabil di Rp 34 ribu,” jelasnya.
Imbas Tradisi Ruwahan dan Program MBG
Kenaikan harga tak hanya melanda sektor hortikultura. Di lapak daging, Denok Ernawati, pedagang ayam potong di Pasar Satu Jepara, mengeluhkan lonjakan harga yang cukup tajam. Harga ayam potong kini mencapai Rp 42.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 35.000.
Menariknya, Denok menyoroti bahwa kenaikan permintaan bukan hanya karena tradisi megengan atau ruwahan jelang puasa, tetapi juga dampak dari program pemerintah.
“Permintaan naik karena banyak selametan ruwahan dan juga program MBG (Makan Bergizi Gratis), jadi barengan,” ungkap Denok.
Meski harga melambung, Denok mengaku volume pembelian masyarakat masih relatif stabil dan tidak menurun drastis, hanya saja beban modal pedagang menjadi lebih berat karena harga tinggi dari pemasok.
Adapun untuk jenis ayam lainnya terpantau masih stabil tinggi, yakni ayam merah Rp 50.000/kg, ayam pejantan Rp 80.000/kg, dan ayam kampung Rp 90.000/kg. Sementara komoditas sayuran seperti kol, sawi, dan tomat juga masih stabil. (oka/gih/rds)










