Jepara  

Pertahankan Tradisi Wiwitan, Pengukir Jepara Bersiap Menuju Pameran Tatah 2026

Seorang pengukir Jepara bernama Roni sedang memanjatkan doa dalam ritual Wiwitan sebelum memahat kayu di bengkel kerjanya.
Roni, pengukir Jepara, melakukan ritual Wiwitan sebelum mulai mengerjakan karya untuk Pameran Tatah 2026 di bengkel kerjanya di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Minggu (15/3/2026). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Di tengah gempuran industri kayu modern yang serba masif dan cepat, seorang pengukir Jepara bernama Roni masih teguh melestarikan tradisi Wiwitan di bengkel kerjanya kawasan Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Minggu (15/3/2026). Laku spiritual pramenatah ini menjadi bukti bahwa kesenian ukir pesisir Jawa bukan sekadar komoditas furnitur komersial, melainkan warisan peradaban yang menghormati harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Ritual doa dan selamatan sederhana tersebut secara khusus digelar Roni sebelum dirinya mengeksekusi mahakarya yang akan diboyong ke ajang Pameran Tatah 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada April mendatang.

Bagi sang seniman, tahapan sunyi ini adalah gerbang mutlak untuk menyucikan diri sekaligus menentukan arah serta ruh dari setiap detail ukiran yang akan dihasilkan.

“Intinya berdoa dan menata niat. Orang Jawa itu memulai sesuatu selalu dengan niat yang bersih,” ujar Roni usai merampungkan ritual tersebut.

Penyucian Niat dan Pelepasan Ego

Secara harfiah, istilah Wiwitan dimaknai sebagai titik awal atau permulaan. Melalui perenungan batin ini, para pengrajin berusaha melepaskan ego pribadi agar proses penciptaan karya murni didorong oleh ketulusan rasa, bukan semata karena ambisi materi.

Pandangan luhur inilah yang membuat potongan kayu tidak lagi dipandang sebagai benda mati, melainkan bagian dari semesta yang patut diposisikan dengan hormat. Dari kesabaran tingkat tinggi itulah lahir motif-motif ukir organik dan spiral yang meliuk luwes bak sulur hidup.

“Kualitas karya bukan hanya dari tekniknya, tetapi dari doa dan perenungan yang menyertainya,” jelasnya merespons makna filosofis tersebut.

Bawa Spirit Budaya ke Kancah Nasional

Mempertahankan idealisme di tengah tuntutan produksi massal tentu bukan pilihan yang mudah. Namun, bagi Roni dan sebagian kecil pengukir Jepara yang tersisa, kepingan kayu yang ditatah tersebut memikul tanggung jawab sejarah yang sangat panjang.

Kekayaan visual ukiran daerah ini tak lepas dari akulturasi peradaban masa lampau, mulai dari pengaruh Hindu, Buddha, hingga Islam di pesisir utara Jawa.

Nilai-nilai sejarah dan spiritualitas inilah yang akan disorot tajam dalam Pameran Tatah 2026. Lewat karya-karya yang dipamerkan kelak, publik ibu kota diajak untuk menyelami wajah modernitas Jawa yang tetap bersahaja tanpa pernah menanggalkan akar kearifan lokalnya. (oka/gih/rds)