JEPARA, Joglo Jateng – Usai menyantap hidangan bersantan seperti opor dan ketupat, warga Kabupaten Jepara kini mulai memburu bakso horog-horog sebagai menu alternatif penawar rasa enek. Perpaduan kuliner lokal unik ini justru kian populer dan membawa berkah ekonomi bagi para pedagang kaki lima saat momen libur Idulfitri tiba.
Di berbagai sudut kampung hingga warung pinggir jalan, menu berbahan dasar tepung sagu ini menjadi primadona pada siang hari usai warga bersilaturahmi. Tekstur horog-horog yang kenyal dipadukan dengan kuah kaldu daging gurih dinilai mampu memberikan sensasi makan yang menyegarkan.
Cahyati (45), warga Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, mengaku menu tradisional tersebut wajib hadir di rumahnya setiap perayaan Lebaran. Hidangan ini bahkan menjadi suguhan khas yang paling ditunggu oleh para kerabat perantau.
“Kalau sudah datang, saudara dari Kudus, Demak, sampai Jakarta itu pasti nyarinya bakso horog-horog. Bahkan sebelum disuguhkan, sudah ditanyakan dulu,” jelasnya, Rabu (25/3/2026).
Omzet Pedagang Meningkat di Kampung Horog-horog
Tingginya minat masyarakat untuk menikmati kesegaran sajian ini rupanya berdampak langsung terhadap geliat ekonomi pedagang setempat. Banyak penjual yang merantau memilih bertahan tidak pulang kampung demi melayani lonjakan permintaan kuliner khas Jepara tersebut.
Satu porsi lengkap ditambah segelas es teh manis biasanya dibanderol sangat terjangkau. Pembeli cukup merogoh kocek berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu untuk porsi yang mengenyangkan.
“Kalau sudah bosan makan opor, pasti larinya ke bakso horog-horog. Makanya penjual bakso di sini justru panen saat Lebaran,” tambah Cahyati.
Di Bumi Kartini sendiri, horog-horog dikenal luas sebagai panganan tradisional pengganti nasi yang masih diproduksi secara lestari. Pusat pembuatannya berada di Desa Menganti, Kecamatan Kedung, yang hingga kini dijuluki sebagai kampung horog-horog.
Keberadaannya kini bukan sekadar pelengkap hidangan. Bakso horog-horog telah mengakar menjadi bagian dari identitas kuliner Lebaran yang dirindukan para pemudik saat kembali ke kampung halaman. (oka/gih/rds)










