KENDAL, Joglo Jateng – Tambak yang sebelumnya terbengkalai dan kurang produktif di wilayah pesisir Kabupaten Kendal kini sukses disulap menjadi lahan budidaya rumput laut. Inovasi ini menjadi angin segar serta sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir di tengah fluktuasi hasil tangkapan laut.
Program pemberdayaan yang didorong oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal ini terbukti ampuh. Skema pemanfaatan lahan ini mampu memberikan tambahan penghasilan yang signifikan bagi para petani tambak Kendal.
Kepala DKP Kendal, Hudi Sambodo, mengatakan bahwa komoditas maritim tersebut memiliki potensi yang sangat baik untuk terus dikembangkan.
Selain kondisi lingkungan perairan Kendal yang mendukung, pemanfaatan tambak yang selama ini tidak optimal menjadi nilai tambah tersendiri bagi kemajuan daerah.
“Tambak-tambak yang sebelumnya kurang produktif sekarang bisa dimanfaatkan kembali untuk budidaya rumput laut. Ini tentu menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan,” katanya, Senin (6/4/2026).
Saat ini, pembudidayaan tanaman laut tersebut telah berjalan sekitar satu tahun lamanya. Program ini sukses melibatkan kurang lebih 50 petani dengan total luas lahan garapan mencapai 25 hektare.
Lokasi budidaya tersebar di sejumlah titik pesisir unggulan. Beberapa di antaranya meliputi wilayah Karangsari, Bandengan, Banyutowo, Balok, hingga Kampung Mbiru.
Untung Bersih Belasan Juta Rupiah
Koordinator budidaya rumput laut, Budiarto, menjelaskan bahwa sistem penanaman komoditas ini tergolong sangat fleksibel.
Metodenya dapat dilakukan bersamaan dengan budidaya ikan bandeng, maupun dimaksimalkan pada tambak pesisir Kendal yang sebelumnya tidak menghasilkan sama sekali.
“Selain memanfaatkan tambak yang tidak produktif, budidaya ini juga bisa dikombinasikan dengan bandeng, jadi lebih efisien,” jelas Budiarto.
Ia membeberkan, sektor budidaya pesisir ini tergolong sangat menjanjikan secara ekonomi. Dalam satu hektare lahan, para petani bisa meraup pendapatan kotor hingga Rp 30 juta per panen.
Setelah dikurangi berbagai biaya operasional, keuntungan bersih yang didapat petani berkisar Rp 15 juta.
Hebatnya lagi, dengan masa panen yang relatif singkat yakni sekitar dua bulan, petani bahkan bisa melakukan panen hingga lima kali dalam satu tahun kalender.
“Hasil panen rumput laut tersebut saat ini sudah memiliki pasar yang jelas. Produk dalam bentuk kering ditampung dan dipasarkan ke berbagai daerah, seperti Surabaya dan Brebes,” terangnya. (ags/gih/rds)










