PATI, Joglo Jateng – Destinasi wisata mangrove Desa Tluwuk, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, kini terus bersolek untuk memanjakan para pengunjung. Pengembangan kawasan konservasi sekaligus ekowisata ini menjadi angin segar bagi kebangkitan potensi ekonomi warga lokal.
Salah satu fasilitas terbaru yang menjadi primadona adalah kehadiran menara pandang berbahan kayu setinggi 10 meter.
Dari atas menara ini, wisatawan dapat leluasa menikmati panorama laut lepas, hamparan hijau tanaman mangrove, hingga aktivitas perahu nelayan pencari ikan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi atau sore hari demi mendapatkan nuansa teduh dan embusan angin laut.
Masih Gratis, Siapkan Susur Sungai
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tluwuk, Agus Susilo, mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan ini telah dirintis secara bertahap sejak 2021. Beragam fasilitas dasar kini telah tersedia.
“Kita merintis desa wisata dari awal. Kita membuat gazebo kalau ada orang mau makan-makan, kemudian ada track sepanjang 250 meter,” katanya.
Menariknya, para wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di tempat wisata di Pati ini belum dikenakan biaya sepeser pun.
“Pengunjung belum kita tarik tarif jadi masih gratis. Karena belum memungkinkan karena masih merintis. Kita mau melebarkan, ada susur sungai, pembuatan parkiran sepeda motor. Selain itu juga ada wisata edukasi,” tutur Agus.

Dukungan Penuh Pemdes dan Dinporapar
Upaya keras Pokdarwis ini mendapat sinyal positif dari pemerintah tingkat desa. Kepala Desa Tluwuk, Rumini, menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh potensi wisata di lahan desanya.
Pendanaan pengembangan wisata dialokasikan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan alokasi Dana Desa (DD).
“Kita punya lahan hampir 15 hektare. Tapi butuh fasilitas lain seperti permainan anak. Kalau sudah ramai otomatis UMKM mengikuti. Kemudian jalannya ditata dulu,” imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati, Rekso Suhartono, turut mengapresiasi inovasi desa pesisir tersebut. Ia berharap kolaborasi lintas elemen bisa membuat pariwisata daerah semakin maju.
“Diharapkan masyarakat setempat, kepala desa dan tokoh masyarakat untuk ikut berpartisipasi mengembangkan potensi desa. Jadi supaya tidak stagnan. Berkembang dan berlanjut. Jadi terus berinovasi,” pungkasnya. (lut/iza/rds)










