PURWOREJO, Joglo Jateng – Para penari dan pelajar di Purworejo menarikan Tari Ndolalak secara massal di halaman Pendopo Bupati Purworejo. Aksi menari massal ini memperingati Hari Tari Sedunia yang diadakan oleh Dewan Kesenian Purworejo (DKP) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan awal pekan ini.
Ketua Komite Tari DKP, Agus Pramono, menjelaskan, pentas kali ini menampilkan Tari Ndolalak sebagai bentuk komitmen pelestarian seni budaya lokal. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo, Yudhie Agung Prihatno; Kepala Dinas Porapar, Bangun Erlangga Ibrahim; Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Purworejo, Sri Susilowati; serta Ketua PGRI Purworejo, Irianto Gunawan. Pentas tari tersebut merupakan bagian dari program tahunan DKP Komite Tari.
“Pentas tari ini seharusnya dilaksanakan 29 April, tetapi karena kesibukan anggota, baru bisa kami gelar awal pekan ini,” jelas Agus, Selasa (5/5/2026).
Dia menambahkan, Pemkab Purworejo turut memfasilitasi kegiatan meski dengan anggaran terbatas. “Walau dana minim, kita bisa berkolaborasi. Pemkab sering membantu konsumsi saat latihan dan kebutuhan lainnya,” katanya.
Tahun ini, total anggaran untuk Dewan Kesenian sekitar Rp 100 juta lebih sebelum pajak, yang dibagi untuk enam komite guna menyelenggarakan event. Dengan pentas ini, DKP berharap agar Tari Ndolalak yang merupakan tarian khas Purworejo, dan seluruh budaya Purworejo tetap lestari dan diuri-uri hingga turun-temurun.
“Peserta pentas berasal dari komunitas Ndolalak se-Kabupaten Purworejo serta pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa dan alumni yang memiliki minat di bidang seni tari,” terang Agus.
Sementara itu, Kepala Dindikbud Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, menyampaikan, Kurikulum Merdeka memberi kebebasan tiap sekolah untuk mengembangkan seni tari melalui ekstrakurikuler.
“Secara umum Ndolalak sudah berkembang cukup baik. Kemarin kami lebih fokus mendorong Cing Po Ling karena termasuk kekayaan seni asli Purworejo yang menunjukkan tingginya budaya kita sejak dulu,” jelas Yudhie.
Ia mengajak semua pihak untuk ikut berperan dalam melestarikan dan mengembangkan seni, baik Ndolalak, Cing Po Ling, maupun kesenian lainnya. “Jangan hanya jadi penonton. Mari bangga dengan seni yang kita miliki,” pesannya.
Yudhie juga menegaskan, tidak ada anggaran khusus untuk Ndolalak. Namun, Dindikbud rutin mengadakan pelatihan bagi guru dan pelatih tari agar dapat melatih murid di sekolah. Event peringatan Hari Tari Dunia ini, imbuhnya, menjadi ruang ekspresi bagi pelatih seni. Harapannya agar bisa menjadi wadah untuk terus berdiskusi, bertukar pendapat, memberi masukan agar seni tari di Purworejo tetap lestari dan diminati masyarakat. (mrn/ree)










