Kudus  

Program Penghijauan Perbukitan Patiayam Kudus Berlanjut, Ratusan Hektare Lahan Ditanami Bibit Buah

TUNJUK: Kepala Desa Terban, Supeno menunjukkan ribuan bibit tanaman buah yang ditanam dalam beberapa tahun terakhir bersama warga. (ADAMNAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Program penghijauan di kawasan Puncak Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus terus berlanjut. Setelah ribuan bibit tanaman buah ditanam dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah desa bersama kelompok tani kini fokus melakukan penyulaman bibit mati dan penanaman lanjutan secara bertahap.

Kepala Desa Terban, Supeno mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar program penghijauan di kawasan perhutanan sosial tetap berjalan maksimal. Menurutnya, penyulaman penting dilakukan untuk mengganti bibit yang mati akibat cuaca, kondisi lahan, hingga minimnya perawatan pada masa awal tanam.

”Mulai 2024 sampai 2026 fokus kami penyulaman bibit yang mati dan penanaman lanjutan supaya kawasan Patiayam benar-benar hijau,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program penghijauan sebelumnya telah berjalan sejak 2020 dengan mengandalkan tanaman buah sebagai konsep utama. Pola tersebut dipilih karena lebih diminati petani dibanding tanaman keras seperti jati atau mindi.

“Tanaman buah ini memiliki nilai ekonomi yang lebih cepat dirasakan masyarakat, sekaligus mampu menjaga kelestarian lingkungan,” tukasnya.

Program tersebut mendapat dukungan CSR sekitar Rp 5 miliar pada 2022 yang diwujudkan melalui penanaman bibit di area sekitar 250 hektare kawasan Patiayam. Kemudian pada 2023, penghijauan kembali dilanjutkan di lahan sekitar 100 hektare.

“Untuk bibit yang ditanam meliputi mangga, alpukat hingga petai. Setiap kelompok tani diberi kesempatan memilih jenis tanaman sesuai kebutuhan dan kondisi lahan garapan masing-masing,” tandasnya.

Supeno mengatakan, proses penyulaman dilakukan secara bertahap agar tanaman yang gagal tumbuh dapat segera diganti. Selain itu, jarak tanam juga diatur sekitar delapan hingga sepuluh meter agar pertumbuhan pohon lebih optimal.

Kalau terlalu rapat, nanti pertumbuhannya tidak maksimal. Karena saling berebut air dan unsur hara,” katanya.

Ia mengungkapkan, kawasan Patiayam dulunya sempat mengalami kerusakan hutan cukup parah pascareformasi. Banyak pohon ditebang dan lahan berubah menjadi area pertanian jagung sehingga kondisi perbukitan terlihat gersang.

Namun, setelah adanya izin perhutanan sosial atau IPHPS dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2018, masyarakat mulai kembali diarahkan melakukan penghijauan. Supeno menilai, pendekatan menggunakan tanaman buah lebih efektif karena masyarakat merasa memiliki manfaat langsung dari tanaman yang dirawat.

Kalau tanaman buah, petani lebih semangat merawat karena hasilnya bisa dinikmati. Jadi penghijauan tetap jalan dan ekonomi warga juga terbantu,” terangnya.

Menurutnya, perubahan mulai terlihat di kawasan Patiayam. Lahan yang sebelumnya tampak tandus perlahan berubah menjadi lebih hijau dengan tumbuhnya berbagai tanaman buah di area garapan warga. (adm/fat/rds)