Dalam waktu dekat, UMK juga terus melakukan pengembangan kelembagaan. Salah satunya dengan pembukaan program studi baru kepelatihan olahraga serta rencana pembukaan program doktor (S3) Ilmu Pendidikan yang saat ini telah melalui tahap evaluasi lapangan.
“Pengembangan organisasi harus berbasis kebutuhan masyarakat. Di tengah fenomena pembukaan dan penutupan program studi, kami harus tetap rasional agar UMK mampu bertahan dan relevan,” katanya.
Dari sisi kualitas, UMK bahkan telah melampaui standar nasional dalam komposisi dosen bergelar doktor. “Saat ini lebih dari 30 persen dosen UMK sudah bergelar doktor. Ini melampaui target nasional yang dicanangkan pemerintah untuk tahun 2030 sebesar 30 persen,” ungkapnya.
Komitmen UMK dalam mendukung pembangunan daerah juga terus diperkuat. Bersama beberapa perguruan tinggi lain, UMK menjadi salah satu penerima penghargaan kolaborasi terbaik dengan Jawa Tengah.
Selain itu, UMK juga menjalin kerja sama dengan sekitar 350 UMKM di wilayah Kudus, Pati, Demak, Jepara, hingga Rembang sebagai bagian dari program magang kewirausahaan mahasiswa.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di lapangan. Ini bagian dari pembekalan keterampilan dasar, terutama dalam kewirausahaan, kebahasaan, dan komputasi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal dari pengabdian. Kami berharap lulusan UMK menjadi agen perubahan, mampu menghadapi tantangan zaman, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (uma/rds)










