KUDUS, Joglo Jateng – Perpustakaan Lentera Ilmu SMP 3 Dawe terus berbenah dengan menghadirkan beragam inovasi layanan. Upaya ini dilakukan untuk menarik minat baca siswa maupun masyarakat sekitar.
Setelah sebelumnya berstatus nonaktif, perpustakaan sekolah di wilayah utara Kudus itu kini kembali hidup. Bahkan mereka berhasil meraih akreditasi B, yang diserahkan langsung oleh Bupati Kudus pekan lalu.
Kepala Perpustakaan SMP 3 Dawe, Nurus Saadah menjelaskan, proses pengajuan akreditasi dimulai sejak tahun lalu. Momentum itu bersamaan dengan upaya mengaktifkan kembali layanan yang sempat terhenti.
“Menurut kepala sekolah sebelumnya, perpustakaan ini sempat nonaktif. Setelah kami ajukan akreditasi, alhamdulillah kini mendapatkan nilai B,” ujarnya.
“Itu capaian yang cukup membanggakan sebagai titik awal kebangkitan,” imbuhnya.
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah hadirnya perpustakaan outdoor di kawasan Kali Cinta, tepat di atas area warung yang dikelola sekolah. Rak-rak buku ditempatkan di lantai dua bangunan tersebut sehingga pengunjung dapat membaca sambil menikmati panorama sungai.
“Anak-anak sering memanfaatkan tempat itu untuk olahraga, belajar, atau sekadar membaca ketika tidak ada kegiatan. Wi-Fi juga tersedia, sehingga bisa menjadi ruang belajar publik,” tambahnya.

Selain ruang baca indoor dan outdoor, perpustakaan Lentera Ilmu juga dilengkapi edusinema. Sebuah ruang mini bioskop yang terintegrasi dengan layanan perpustakaan.
Fasilitas ini menjadi favorit siswa, terutama karena jarak sekolah dari pusat kota cukup jauh. “Banyak siswa yang belum pernah ke bioskop,” ungkapnya.
“Jadi ketika bisa menonton film edukatif di sekolah dengan layar besar dan audio yang memadai, mereka sangat antusias,” sambung Nurus.
Sejak perpustakaan dinyatakan terakreditasi, antusiasme siswa meningkat tajam. Ruang yang lebih tertata, bersih, dan fungsional membuat kegiatan belajar di luar kelas terasa lebih hidup.
“Kalau diajak belajar di perpustakaan, mereka lebih semangat. Pagi bisa di tepi sungai, siang bisa di indoor atau edusinema,” kata Nurus.

“Sekarang banyak mapel yang memanfaatkan perpustakaan untuk pembelajaran,” lanjutnya.
Perpustakaan juga melibatkan siswa sebagai duta literasi yang bertugas membantu menjaga dan mengaktifkan layanan setiap jam istirahat. “Mereka membantu penataan, layanan, dan mengajak teman-temannya untuk membaca,” jelasnya.
“Lebih efektif karena siswa lebih nyaman ketika dilayani oleh teman sebaya,” terangnya.
Kepala SMP 3 Dawe, Etik Dwi Aprili Yanti, berharap akreditasi B menjadi pijakan untuk peningkatan kualitas layanan perpustakaan ke depan. Ia juga menargetkan agar perpustakaan menjadi ruang yang semakin diminati siswa.
“Harapannya akreditasi nanti bisa meningkat lagi. Kami ingin perpustakaan menjadi tempat favorit anak-anak,” ujarnya.
“Setelah jajan, setelah istirahat, mereka bisa memilih ke perpustakaan. Tidak hanya membaca, tapi juga bermain, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan,” tutupnya. (iza/fat/rds)










