Siswa MTs NU TBS Kudus Olah Limbah MBG Jadi Sabun Cuci Piring

BERNILAI JUAL: Tim riset MTs NU TBS Kudus menunjukkan hasil karya olahan sampahnya berupa sabun cuci piring EcoTasywiq. (DOK.PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Limbah organik dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di MTs NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus kini tak lagi berakhir di tempat sampah. Melalui inovasi sabun cuci piring bernama EcoTasywiq, para siswa peneliti muda berhasil mengolah residu tersebut menjadi produk ramah lingkungan yang kaya manfaat dan bernilai guna.

Gagasan ini bermula dari keprihatinan sang pembina riset, Muhammad Rifai, terhadap tingginya jumlah sampah harian di madrasah. Awalnya, ia mengolah sampah organik menjadi pupuk, namun produk tersebut dirasa kurang mendapat perhatian.

Dari situlah muncul ide baru untuk membuat sesuatu yang lebih mudah diterapkan dan langsung terasa manfaatnya. “EcoTasywiq adalah ikhtiar pertama madrasah dalam mengelola sampah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Meski baru mengolah sebagian kecil dari total sampah harian, Rifai menyebut langkah ini penting untuk memulai budaya peduli lingkungan. Produk EcoTasywiq terbuat dari residu organik Makanan Bergizi Gratis yang difermentasi menggunakan teknik anaerob.

Proses ini menghasilkan eco-enzyme, yakni bahan dasar yang kemudian diolah menjadi sabun cuci piring. Karena seluruh bahan berasal dari limbah organik dan diproses tanpa bahan kimia berbahaya, EcoTasywiq digadang-gadang aman digunakan, bahkan untuk peralatan makan bayi.

Bentuknya sederhana, namun memiliki manfaat yang besar. Tak hanya membantu mengurangi tumpukan sampah, sabun ini juga menawarkan pilihan pembersih ramah lingkungan di tengah dominasi produk-produk kimia di pasaran.

Saat ini produk tersebut masih dalam tahap awal dan belum dipasarkan secara massal karena masih menunggu proses perizinan. Namun, minat masyarakat terhadap EcoTasywiq sudah mulai terlihat, sehingga pihak madrasah membuka peluang pemesanan secara langsung.

Selain sabun ramah lingkungan, tim riset MTs NU TBS Kudus sebelumnya juga pernah membuat gantungan kunci karakter dari limbah tutup botol. Meski produksinya terbatas karena kendala cetakan, inovasi ini menunjukkan kreativitas pengelolaan sampah di madrasah yang terus berkembang.

Kepala MTs NU TBS Kudus, Salim, menyambut gembira inovasi siswanya ini. Menurutnya, EcoTasywiq sangat selaras dengan upaya madrasah menuju penilaian Adiwiyata, yakni program yang menekankan pada perilaku ramah lingkungan.

“Pengolahan sampah tidak bisa dikerjakan satu dua orang saja. Ini kerja bersama, bagian dari membangun kebiasaan baik,” tegasnya.

Di tengah isu lingkungan yang semakin mendesak, EcoTasywiq hadir sebagai bukti nyata bahwa perubahan besar bisa bermula dari langkah kecil. Mulai dari ruang kelas, dari anak-anak muda, dan dari sebotol sabun cuci piring yang dibuat dengan penuh kepedulian. (iza/rds)