Jepara  

Cuaca Ekstrem, Panen Kopi di Tempur Jepara Diperkirakan Turun

PETIK: Zainuddin saat ditemui di ladang kopinya, Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Minggu (14/6/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Saiful Anwar (50), mengatakan petani di Desa Tempur telah terbiasa menghadapi fluktuasi hasil panen kopi.

Selain mengandalkan kopi, mereka juga menanam berbagai komoditas lain untuk menjaga pendapatan keluarga.

Ia memperkirakan, produksi kopi robusta tahun ini hanya mencapai 0,8 hingga 1 ton per hektare. Padahal pada musim yang baik, hasil panen bisa mencapai 1 hingga 1,2 ton per hektare.

“Hasil panen kopi robusta ini biasanya memang gantian, kalau tahun sebelumnya banyak, tahun berikutnya agak berkurang, itu sudah biasa,” ujar Saiful.

Untuk mengurangi risiko kerugian, petani memanfaatkan lahan dengan sistem tumpang sari. Selain menanam padi, jagung, dan sayuran, mereka juga menanam komoditas bernilai ekonomi di sela-sela kebun kopi seperti lada, alpukat, vanili, hingga porang.

Menurut Saiful, keberadaan tanaman pendamping tersebut menjadi penopang ekonomi petani ketika produksi kopi mengalami penurunan.

“Kalau petani bisa mengolah hasil perkebunan, insyaallah hasilnya aman (meskipun hasil panen berkurang),” pungkas Saiful. (oka/gih/rds)