PEMALANG, Joglo Jateng – Momen langka terjadi di Kabupaten Pemalang saat bunga Wijayakusuma Keraton bermekaran bertepatan dengan bulan Suro.
Bunga yang dikenal sebagai simbol penobatan raja-raja Jawa itu mekar di Sastrajendra Gallery Tosan Aji & Botani, Desa Cibelok, Kecamatan Taman, Kamis (25/6/2026) malam lalu.
Pemilik galeri, KRT Heppy Nugrahadiprojo mengatakan, mekarnya bunga tersebut menjadi peristiwa yang jarang terjadi sehingga disambut antusias para pencinta budaya dan tanaman.
“Kami beruntung bisa menyaksikan bunga ini mekar karena memang langka. Nanti masih bisa mekar lagi dengan warna putih,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Heppy menjelaskan, tanaman tersebut berasal dari hasil cangkok pohon indukan yang tumbuh di Pulau Majeti, selatan Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap.
Menurutnya, Wijayakusuma Keraton (Pisonia grandis var. silvestris) berbeda dengan tanaman hias wijayakusuma (Epiphyllum oxypetalum) yang lebih jamak dikenal masyarakat.
Sebagai Pembina Komunitas Taji Kalang Pemalang, Heppy menuturkan, bunga tersebut memiliki nilai sejarah tinggi karena menjadi simbol legitimasi penobatan raja-raja Mataram.
“Wijayakusuma Keraton merupakan simbol wahyu keprabon. Dalam sejarah, Sunan Amangkurat II mengutus Ki Pranantaka untuk memetik bunga ini sebagai lambang penobatan raja,” katanya.
Ia mengaku terus membudidayakan tanaman tersebut melalui teknik cangkok sebagai upaya pelestarian warisan budaya.
Dengan demikian, generasi mendatang tetap dapat mengenal filosofi dan sejarah yang melekat pada eksistensi Wijayakusuma Keraton. (fan/ree/rds)










