Langkah strategis ini menempatkan perempuan sebagai agen perubahan utama dalam menjaga kerukunan, yang diinisiasi mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga hingga merambah ke masyarakat luas.
Bupati secara khusus mengapresiasi P3HK sebagai inovasi membanggakan yang menjadi pelopor pertama di Jawa Tengah, bahkan di tingkat nasional.
Tidak hanya itu, untuk mengukur dan memperkuat kualitas kehidupan sosial secara ilmiah, Pemkab Wonosobo juga mengajak masyarakat luas berpartisipasi aktif dalam Pengukuran Indeks Harmoni Indonesia Tahun 2026 melalui pengisian e-Survei.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Wonosobo, Agus Kristiono, menjelaskan Grebeg Suran kini telah berevolusi.
Kegiatan ini bukan lagi sekadar ritual budaya tahunan, melainkan ruang strategis kebangsaan.
“Kerukunan tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi harus terus dibangun melalui ruang-ruang perjumpaan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Grebeg Suran menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi energi persatuan, memperkuat kebangsaan, dan membangun kolaborasi lintas agama maupun budaya demi menjaga kondusivitas daerah.”
Apresiasi tinggi juga datang dari tingkat provinsi. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Syaiful Mujab, memuji konsistensi Wonosobo yang mampu mempertahankan tradisi ini selama 12 tahun berturut-turut.
Ia menilai Wonosobo layak menjadi potret inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. (cr1/ree/rds)










