Kudus  

Menelusuri Jejak Sejarah Makam Saudagar Kretek di Kabupaten Kudus

DAHULU KALA: Prosesi sortir hasil produksi dari rumah digudang produksi milik Nitisemito industi kretek Bal Tiga. (DOK.CERITA KUDUS TUWA/JOGLO JATENG)

Djamboe Bol, Kretek dari Kampung Santri

Perjalanan ziarah berikutnya menuju makam keluarga Ma’roef, pendiri pabrik kretek Cap Djamboe Bol di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae.

Sepupu keluarga pendiri, Jamal Yazid menjelaskan, Ma’roef memulai usaha sebagai pedagang sebelum mendirikan pabrik kretek pada 1937.

“Awalnya hanya usaha kecil dengan belasan pekerja. Seiring waktu berkembang menjadi perusahaan besar yang mempekerjakan ribuan orang dan pemasarannya sampai ke Sumatra,” katanya.

Menurut Jamal, Ma’roef dikenal sebagai sosok religius yang dekat dengan para kiai. Latar belakangnya sebagai santri membuatnya aktif membantu pembangunan masjid, berbagai kegiatan sosial, hingga lembaga pendidikan.

Pada masa kejayaannya, Djamboe Bol pernah mempekerjakan sekitar 4.000 pekerja dengan wilayah pemasaran hingga Sumatra. Setelah mengalami pasang surut selama beberapa dekade, perusahaan akhirnya menghentikan operasionalnya pada 2009.

Ziarah kemudian berlanjut ke kompleks makam M. Wartono, pendiri pabrik kretek Sukun.

Pengurus Area Kompleks Badan Koordinator Makam dan Masjid At-Taqwa M. Wartono, Ahmad Fauzan mengatakan, sosok M. Wartono tidak hanya dikenang sebagai pengusaha. Namun juga sebagai tokoh yang memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat.

“Beliau dikenal dermawan dan memberikan perhatian besar terhadap pembangunan masjid serta kegiatan sosial. Nilai-nilai itulah yang hingga kini terus dikenang keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.

Menurut Fauzan, warisan M. Wartono bukan hanya perusahaan yang terus berkembang. Tetapi juga semangat berbagi yang masih dijaga keluarga hingga sekarang. (iza/rds)