Sementara Mas Nadiroen mempertahankan warisan keluarga melalui merek Gunung Kelapa. Pabriknya bahkan pernah menjadi objek penelitian penulis sejarah kretek asal Australia, Mark Hanusz.
Pabrik tersebut dijadikan sebagai salah satu contoh industri kretek keluarga yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Keberadaan pabrik tersebut menjadi penanda penting perkembangan industri kretek di Kudus Kulon.
Putra bungsu, Mas Roesdi, mengembangkan Cap Sogo dan Ogo. Ia memulai usaha dengan memproduksi rokok klobot sebelum beralih ke sigaret kretek tangan mengikuti perkembangan pasar pada era 1940-an.
Merek Sogo sendiri diambil dari nama buah sogo yang banyak dikenal masyarakat sebagai identitas produknya.
Sementara Moeslich melalui Pabrik Tebu Cengkeh juga menjadi bagian penting dalam sejarah industri kretek Kudus. Namanya tercatat dalam dokumen kunjungan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer ke Kudus pada 19 Maret 1939.
Kehadiran pejabat tertinggi pemerintah kolonial di pabrik tersebut menunjukkan bahwa industri kretek Kudus telah menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan pada masanya.
Bagi Ahmad Yusak, Atmowidjojo bukan hanya meninggalkan sebuah pabrik, melainkan sebuah warisan berupa tradisi kewirausahaan yang melahirkan banyak merek kretek legendaris di Kudus.
Di penghujung perjalanan, para peserta ziarah meninggalkan kompleks makam dengan membawa satu kesadaran yang sama. Di balik nisan-nisan para saudagar itu tersimpan sejarah tentang keberanian membaca peluang, membangun usaha dari nol, hingga menjadikan Kudus dikenal sebagai Kota Kretek.
Jejak mereka mungkin telah tertutup usia, tetapi kisahnya masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. (iza/rds)










