Kendal  

Petani Desa Laban Kendal Lestarikan Tradisi Tingkep Tandur, Harapkan Panen Melimpah

TRADISI: Acara tingkep tandur digelar petani Desa Laban, Kecamatan Kangkung di pinggir sawah, Sabtu (18/7/2026). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Tradisi pertanian Jawa berupa tingkep tandur masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Laban, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Tradisi yang digelar saat tanaman padi memasuki usia sekitar 60 hari itu menjadi bagian dari kearifan lokal yang hingga kini tetap dijaga oleh para petani.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, tingkep tandur merupakan selamatan yang dilaksanakan ketika tanaman padi mulai memasuki fase pertumbuhan. Tradisi ini diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar tanaman padi tumbuh subur, terhindar dari serangan hama, dan menghasilkan panen yang melimpah.

Warga membawa berbagai hidangan selamatan, seperti tumpeng dan makanan kenduri, yang kemudian digunakan dalam prosesi doa bersama di area persawahan. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antarpetani di Desa Laban.

Kepala Desa Laban, Adibul Farah mengatakan, tingkep tandur merupakan bagian dari identitas masyarakat petani yang tetap dipertahankan hingga sekarang.

“Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, menghargai alam, dan menjaga kebersamaan. Petani tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam harapan untuk kehidupan yang lebih baik,” kata Adibul Farah.

Ia berharap tradisi tingkep tandur dapat terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat agraris di Kabupaten Kendal. Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut tidak hanya menjaga nilai-nilai budaya, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sektor pertanian.

“Harapan kami, tradisi ini tetap dilaksanakan dari generasi ke generasi sehingga nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kecintaan terhadap pertanian tetap terjaga di tengah perkembangan zaman,” harapnya.

Sementara itu, Rohman, petani Desa Laban menyampaikan bahwa tradisi tingkep tandur menjadi momen yang penting bagi para petani. Tujuannya untuk memohon kelancaran musim tanam sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.

“Bagi kami para petani, tradisi ini bukan hanya seremonial, tetapi juga bentuk doa bersama agar hasil panen melimpah dan pekerjaan di sawah diberi kemudahan,” ujarnya. (ags/gih/rds)