Kudus  

Teater Boneka Jala dan Jana di KBPW Kudus Ajak Penonton Jaga Kelestarian Sungai

SARAT MAKNA: Pertunjukan teater boneka "Jala dan Jana" di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus, Sabtu (18/7/2026) malam. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Selain membawa pesan ekologis, pertunjukan ini juga dirancang agar dekat dengan anak-anak tanpa harus dikemas secara kekanak-kanakan.

Melalui visual, gerak tubuh, dan boneka, anak-anak diajak membangun imajinasi tanpa dibatasi narasi verbal. “Kami tidak pernah meragukan imajinasi anak,” jelas Rangga.

Ia menambahkan, benda-benda sederhana di rumah pun bisa menjadi media membangun cerita. “Yang penting adalah bagaimana mereka memvisualisasikan imajinasinya,” imbuhnya.

Hubungan antara pemain dan boneka, lanjut Rangga, seharusnya berjalan dua arah. Boneka bukan sekadar objek, melainkan memiliki cerita, memori, dan cara berkomunikasi yang harus dipahami pemain.

Sementara itu, Koordinator KBPW Kudus, Jessy Segitiga mengaku tersentuh dengan pertunjukan tersebut. Kekuatan “Jala dan Jana” dinilai justru terletak pada kesederhanaan bahasa panggung.

“Saya seperti ditampar. Sering kali pertunjukan dipenuhi kata-kata, tetapi justru kosong. Di sini tidak ada dialog, tetapi ketubuhan dan visual mampu berbicara sangat jujur,” tuturnya.

Jessy menilai pendekatan teater boneka yang memberi ruang imajinasi anak layak dikembangkan sebagai metode pendidikan. Pilihan artistiknya juga dinilai selaras dengan tema sungai sebagai ruh pertunjukan.

Melalui “Jala dan Jana”, Flying Balloons Puppet menunjukkan pesan lingkungan tak melulu lewat kata-kata. Gerak tubuh dan boneka mampu mengajak penonton merenungkan pentingnya menjaga ruang hidup bersama. (iza/rds)