Kudus  

Teater Boneka Jala dan Jana di KBPW Kudus Ajak Penonton Jaga Kelestarian Sungai

SARAT MAKNA: Pertunjukan teater boneka "Jala dan Jana" di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus, Sabtu (18/7/2026) malam. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Cerita tentang kelestarian alam tak selalu harus disampaikan melalui pidato atau dialog panjang. Flying Balloons Puppet membuktikannya lewat pertunjukan teater boneka “Jala dan Jana”.

Pertunjukan tersebut mengajak penonton membaca ulang makna sungai, mitos, dan relasi manusia dengan alam di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus, Sabtu (18/7/2026) malam.

Selama sekitar 30 menit, para pemain tak mengucapkan sepatah kata pun. Gemericik air, gerak tubuh, permainan boneka, gambar, dan kain menjadi medium utama yang menyampaikan kisah hubungan manusia dengan sungai.

Lewat bahasa visual, pertunjukan itu menghadirkan pengalaman yang mengajak penonton merasakan pesan pentingnya menjaga alam, alih-alih sekadar mendengarnya.

Pementasan hasil kolaborasi Flying Balloons Puppet dan KBPW itu mengangkat mitos sungai. Hal ini menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan ekologis dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Sutradara pertunjukan, Rangga Dwi Apriadinnur mengatakan, cerita dalam “Jala dan Jana” berangkat dari mitos ular berkepala kerbau dan buaya putih yang dipercaya hidup di sungai.

Menurutnya, mitos selama ini kerap dimaknai sebagai kisah mistis yang berkaitan dengan tumbal. Padahal, mitos sesungguhnya merupakan bentuk pengetahuan yang diwariskan masyarakat untuk menjaga alam.

“Bagi kami, mitos merupakan produk pengetahuan yang lahir dari sungai. Di dalamnya ada pesan agar manusia memahami bahaya sungai, banjir, sekaligus pentingnya menjaga alam,” katanya.

Rangga menjelaskan, kata jala dalam bahasa Sanskerta berarti air. Baginya, hubungan manusia dengan air merupakan ikatan abadi dan akan terus bergerak mengikuti perubahan zaman.

“Karya ini seperti seniman, akan terus tumbuh. Kami selalu melihat kembali dari sudut pandang yang berbeda, mencari visual dan perspektif baru,” ujarnya.

Ia menuturkan, “Jala dan Jana” bukanlah karya yang selesai dalam satu proses kreatif. Sejak pertama dipentaskan pada 2018 di Solo bersama seniman Australia, pertunjukan ini terus berkembang melalui eksplorasi bentuk dan visual.