Dalam sambutannya, Muhammad Tho’at mengaitkan nilai konservasi dengan kisah keteladanan Sunan Bonang. Ia menceritakan bagaimana Sunan Bonang pernah merasa bersalah ketika tanpa sengaja mencabut beberapa helai rumput saat mengambil tongkatnya.
Kisah tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa setiap makhluk hidup memiliki nilai dalam menjaga keseimbangan alam.
“Menjaga lingkungan tidak hanya berbicara tentang pohon-pohon besar. Rumput yang tumbuh pun memiliki hak untuk hidup dan menjadi bagian dari keseimbangan alam,” tuturnya.
Sementara itu, peneliti dan pemerhati konservasi Muria, Fawaz menyampaikan bahwa masyarakat memiliki peran besar sebagai garda terdepan dalam menjaga kawasan hutan. Berdasarkan pengamatannya selama hampir tujuh tahun melakukan penelitian di Pegunungan Muria, konflik antara manusia dan satwa liar di kawasan tersebut relatif kecil.
Menurut Fawaz, kejadian yang muncul umumnya berkaitan dengan serangan terhadap ternak. Hal ini dipicu karena kondisi kandang warga yang belum memenuhi standar keamanan.
Oleh sebab itu, PEKA Muria tidak hanya memberikan edukasi konservasi, tetapi juga membantu masyarakat melakukan mitigasi. Salah satunya melalui perbaikan kandang ternak.
“Kita jangan hanya menyalahkan masyarakat atas kerusakan hutan. Konservasi membutuhkan dukungan kebijakan, tata kelola yang baik, serta regulasi yang berpihak pada kelestarian lingkungan,” jelas Fawaz.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah telah menunjukkan dampak panjang dari kerusakan lingkungan. Hilangnya Selat Muria akibat sedimentasi yang dipicu degradasi kawasan hulu menjadi salah satu contoh nyatanya.
Perubahan ekosistem tersebut telah memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, bahkan perjalanan sejarah suatu wilayah.
Dalam kesempatan yang sama, Founder Kresek Indonesia, Faesal Adam membagikan materi mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan. Ia mengapresiasi pelaksanaan seminar yang menerapkan konsep minim sampah, sehingga kegiatan dari pagi hingga siang tersebut hampir tidak menghasilkan limbah.
Faesal menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai melalui prinsip 3H, yaitu Cegah, Pilah, dan Olah. Masyarakat didorong untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya, memilah berdasarkan jenis, serta mengolah kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.
“Perubahan besar dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan kecil. Dengan mencegah, memilah, dan mengolah, masyarakat dapat ikut menjaga lingkungan secara nyata,” kata Faesal.
Melalui seminar konservasi ini, PEKA Muria berharap semakin banyak generasi muda yang melek ekosistem. Tidak hanya memahami pentingnya pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di masyarakat. (uma/rds)










