Menurutnya, anggaran besar itu lebih baik dialokasikan untuk BPJS Kesehatan, biaya pendidikan, dan subsidi BBM. Ia juga mengungkapkan fakta di lapangan bahwa banyak anak-anak yang tidak terlalu suka dengan menu MBG, sehingga makanan kerap tidak dimakan dan terbuang sia-sia.
“Bakul kecil seperti kami kasihan, merasa diinjak-injak. Kami yang jual eceran justru kalah saing dengan sistem distribusi besar,” tandasnya lirih.
Fenomena kontradiktif juga diungkapkan oleh Yatin, penjual daging ayam. Ia mengungkapkan bahwa justru saat liburan sekolah dan MBG berhenti sementara, penghasilannya lebih banyak.
Namun, kini setelah MBG kembali beroperasi, omzet penjualannya anjlok drastis.
“Paling sekarang cuma laku 90 kilogram sehari. Padahal biasanya saya bisa menjual hampir 150 kilogram,” ujar Yatin.
Artinya, ada penurunan volume penjualan yang mencapai hampir 40 persen. Hal ini membuktikan bahwa MBG yang beroperasi tidak serta-merta meningkatkan permintaan pasar bagi pedagang tradisional.
Sebaliknya, program ini diduga justru mengalirkan pasokan ke jalur distribusi khusus partai besar. Sehingga para pedagang eceran di Pasar Bantarbolang justru kehilangan pangsa pasar pembelinya. (cr2/fan/rds)










