Nilai TKA SMP Pemalang Rendah, DPRD Dorong Evaluasi Pembelajaran dan Peran Orang Tua

Moch. Safii, Anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat dari Fraksi PPP DPRD Kabupaten Pemalang. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Berada di peringkat ke-32 dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP, Kabupaten Pemalang langsung mendapatkan sorotan dari wakil rakyat.

Para anggota DPRD Pemalang menginginkan adanya evaluasi pembelajaran agar dapat melibatkan orang tua secara aktif dalam prosesnya.

Hal ini disampaikan langsung oleh Anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat, Moch. Safii.

Ia mengaku merasa miris atas perolehan nilai rata-rata siswa SMP di Kabupaten Pemalang yang tergolong rendah.

Walaupun jika dilihat secara nasional, rata-rata nilai TKA terhitung sangat rendah, yaitu 60,83 untuk Bahasa Indonesia dan 40,34 untuk mata pelajaran Matematika.

“Nilai untuk bahasa memang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, yaitu 61,55,” ujar Safii pada Selasa (21/7/2026).

“Akan tetapi pada nilai matematika termasuk sangat rendah. Ini jadi evaluasi menurut saya bukan skala lokal, harusnya nasional,” imbuhnya.

Ia menilai apabila pembelajaran dapat dilakukan secara efektif, nilai rata-rata tersebut masih bisa lebih tinggi.

Terutama, keterlibatan orang tua yang harus dilakukan dalam setiap pembelajaran.

Orang tua harus secara aktif setiap hari melakukan pemantauan hasil belajar, bukan hanya setahun sekali saat pembagian rapor.

Untuk itu, pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan menurutnya sangat penting dilakukan.

Materi pembahasannya mencakup peningkatan kualitas pelajar hingga tenaga pengajar atau guru.

Seluruh pihak harus dilibatkan dalam proses pembelajaran yang optimal untuk menciptakan lingkungan belajar yang unggul dan nyaman.

“Pastinya kami akan memperhatikan guru, karena mereka tombak utama pendidikan,” tegas Safii.

“Terutama dalam perlindungan pada proses pembelajaran yang beberapa waktu ini menjadi perbincangan, banyaknya kasus hukum yang menjerat tenaga pengajar,” pungkasnya. (fan/ree/rds)