KUDUS, Joglo Jateng – Musim kemarau yang berlangsung sejak awal Juli mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus.
Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, menjadi daerah yang paling terdampak setelah ratusan sumur warga mengering. Sementara itu, sebagian sumur lainnya hanya mengeluarkan air keruh yang tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat, lebih dari 1.200 jiwa di desa tersebut kini bergantung pada bantuan air bersih.
Untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, BPBD bersama sejumlah instansi terus melakukan distribusi air ke titik-titik yang mengalami kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus melalui Kepala Seksi Kedaruratan, Ahmad Munaji mengatakan, pihaknya telah mengantisipasi datangnya musim kemarau. Langkah ini dilakukan dengan memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menempatkan tandon air di lokasi-lokasi yang diperkirakan menjadi titik rawan.
“Sejak awal Juli kami sudah menerima laporan mengenai sumur warga yang mulai mengering. Karena itu, kami langsung menyiapkan tandon air dan melakukan distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.
Data BPBD Kabupaten Kudus menunjukkan, wilayah terdampak tersebar di tiga rukun warga (RW). Di RW 1, tepatnya RT 4 dan RT 5, terdapat 42 kepala keluarga atau 106 jiwa yang kini mengandalkan pasokan air dari dua tandon yang disediakan.
Sementara di RW 2, RT 1 dan RT 4, sebanyak 34 kepala keluarga dengan total 92 jiwa juga menerima layanan serupa.
Kondisi paling berat terjadi di RW 3 yang meliputi RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, dan RT 6. Di kawasan tersebut terdapat 375 kepala keluarga atau sekitar 1.091 jiwa yang terdampak kekeringan sehingga membutuhkan suplai air secara rutin.
Munaji menjelaskan, distribusi air tidak hanya dilakukan oleh BPBD. Sejumlah instansi lain turut berpartisipasi membantu penyaluran.
Instansi tersebut di antaranya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Palang Merah Indonesia (PMI), serta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Khusus pada Kamis (30/7/2026), bantuan yang disiapkan mencapai sekitar 15 ribu liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di Desa Glagahwaru,” bebernya.
Secara keseluruhan, selama periode 15 hingga 29 Juli 2026, volume air bersih yang telah disalurkan mencapai 142 ribu liter.
Dari jumlah tersebut, BPBD menyumbang 75 ribu liter dan BBWS menyalurkan 30 ribu liter air. Sisanya, PDAM menyalurkan 17 ribu liter, sedangkan Satpol PP dan PMI masing-masing menyalurkan 10 ribu liter.
“Meski musim kemarau diperkirakan masih berlangsung, hingga kini BPBD belum menerima permohonan distribusi air bersih dari desa lain,” ungkapnya.
Namun, pemantauan terus dilakukan agar penanganan dapat segera diberikan. Hal ini sebagai antisipasi apabila wilayah lain mulai mengalami kekeringan dan kesulitan memperoleh air bersih. (adm/fat/rds)










