Kudus  

BPBD Kudus Siagakan Dropping Air Bersih Hadapi Puncak Kemarau 2026

MITIGASI: Sekretaris BPBD Kabupaten Kudus, Syarif Hidayah. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga Desember 2026 berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus menyiapkan berbagai langkah, mulai dari edukasi kepada masyarakat hingga kesiapan dropping air bersih.

Sekretaris BPBD Kabupaten Kudus, Syarif Hidayah mengatakan, puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September mendatang.

Meski demikian, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya wilayah yang mengalami kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih.

“Mulai Juni sampai Desember potensi tingkat kekeringan cukup tinggi. Namun, sampai sekarang belum ada laporan kekeringan yang memerlukan dropping air bersih,” ujarnya.

BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah selama musim kemarau karena berisiko memicu kebakaran.

Sebagai kota peraih Adipura, pengelolaan sampah di Kudus harus dilakukan melalui pengolahan, bukan pembakaran.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga lingkungan dari pembakaran sampah. Apa pun jenis sampahnya tidak boleh dibakar, tetapi harus diolah. Residu nantinya diolah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA),” kata Syarif.

Selain itu, masyarakat juga diminta melakukan penghematan penggunaan air. Hal itu bertujuan agar pasokan kebutuhan harian tetap tercukupi selama musim kemarau.

Ketersediaan air sendiri diperkirakan masih mencukupi sampai November. Jika nantinya diperlukan dropping air bersih, BPBD bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait siap melaksanakannya.

Penanganan bencana di Kabupaten Kudus juga melibatkan berbagai unsur, termasuk organisasi relawan yang tergabung dalam Trauma Center.

Seluruh elemen tersebut siap memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing dalam penanganan kebencanaan.

BPBD juga telah mengidentifikasi sedikitnya 24 titik lokasi yang direncanakan untuk pembangunan sumur bor apabila anggaran tersedia.

Beberapa wilayah yang menjadi prioritas karena dinilai rawan kekeringan antara lain Desa Menawan dan Desa Glagahwaru. (uma/fat/rds)