Kudus  

Pemkab Kudus Percepat Normalisasi Sungai Juwana dan JU 1

RAPAT: BPBD Kudus telah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah OPD, BBWS Pemali Juana, serta instansi terkait guna menyusun langkah percepatan penanganan sungai di kantor, Kamis (25/6/2026). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten Kudus terus mempercepat normalisasi Sungai Juwana dan Sungai JU 1 (Juwana–Undaan) yang ditargetkan mulai dikerjakan pada Agustus mendatang. Langkah ini diprioritaskan untuk mengurangi genangan di kawasan persawahan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta memperkuat pengendalian banjir sebelum musim penghujan tiba.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Eko Hari Djatmiko, melalui Sekretaris BPBD, Syarif Hidayah mengatakan, musim kemarau merupakan waktu paling ideal untuk melaksanakan pengerukan maupun normalisasi sungai. Sebab, pendangkalan terlihat jelas dan mobilisasi alat tidak terlalu sulit.

Menurutnya, percepatan normalisasi sungai diharapkan mampu mengurangi genangan yang selama ini menghambat aktivitas pertanian. Dengan kondisi saluran yang lebih baik, petani ditargetkan dapat meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi sedikitnya dua kali panen dalam setahun.

“Kerja sama antar-OPD dan instansi vertikal semakin baik. Ada dukungan alat dari PUPR maupun BBWS Pemali Juana untuk pengerukan,” katanya.

Tak hanya fokus pada normalisasi Sungai Juwana dan JU 1, pemerintah daerah juga mengusulkan pengerukan di sejumlah titik yang dinilai mengalami pendangkalan dan menjadi penyebab genangan di lahan pertanian maupun permukiman.

Lokasi yang diusulkan meliputi Sungai Bakinah Timur, Sungai Wonorejo di Kaliyoso, Sungai Pelambingan sisi barat di Desa Sidomulyo, Sungai Palelesan, dan wilayah persawahan selatan lingkar.

BPBD juga kembali mendorong kelanjutan pembangunan tanggul selatan sepanjang sekitar 12 kilometer. Tanggul ini membentang dari pertemuan Sungai Bakinah Timur hingga kawasan Bulungcangkring–Gadu dan terhubung dengan Sungai Juwana.

Syarif menjelaskan, pengerukan darurat sepanjang dua kilometer pernah dilakukan pada 2023 di wilayah Kesambi dan Temulus. Namun, penanganan lanjutan dinilai masih diperlukan mengingat panjang tanggul yang harus dibangun mencapai sekitar 12 kilometer.

“Karena panjangnya sekitar 12 kilometer, maka perlu dilanjutkan agar pengendalian genangan bisa lebih maksimal,” ungkapnya.

Ia menambahkan, proyek normalisasi Sungai Juwana dan Sungai JU 1 ditargetkan mulai dikerjakan pada Agustus 2026. Saat ini, tahapan yang sebelumnya berada pada perencanaan teknis telah berlanjut ke proses pembebasan lahan.

Dalam rencana tersebut, lebar Sungai JU 1 akan diperluas dari sekitar 20–30 meter menjadi 80 meter. Sementara itu, Sungai Juwana direncanakan memiliki lebar sekitar 120 meter termasuk tanggul, sehingga kapasitas tampung aliran air meningkat secara signifikan.

Menurutnya, Agustus masih berada dalam periode musim kemarau sehingga menjadi waktu paling efektif untuk memulai pekerjaan sebelum curah hujan kembali meningkat. (uma/fat/rds)