SLEMAN, Joglo Jogja – Fenomena El Nino yang melanda berbagai wilayah Indonesia mulai berimbas pada sektor perikanan dan pertanian. Tak terkecuali di Kabupaten Sleman. Mengatasi hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengatasi fenomena kekeringan yang mulai melanda Bumi Sembada.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mengatakan, sejumlah warga di berbagai wilayah Sleman mulai merasakan dampak El Nino. Salah satunya adalah berkurangnya debit sumber air bersih pada sumur.
“Sejumlah petani padi dan pemilik perikanan di Kabupaten Sleman sudah mulai mengeluh soal pasokan air,” terangnya, saat menerima kunjungan anggota Komisi IV DPR RI di Kantor Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta (SKIPM) Yogyakarta, Maguwoharjo, Depok, Sleman, belum lama ini.
Menurutnya, El Nino juga berdampak pada sektor perikanan di Sleman. Dari pendataan yang dilakukan oleh dinas terkait, sektor perikanan di Sleman yang terdampak fenomena ini mencapai seluas 126,21 hektare. Angka itu setara dengan 11,13 persen dari total kolam budidaya ikan di Sleman.
Lebih lanjut, Danang mengungkapkan, untuk meminimalisir dampak kekeringan yang terjadi di Sleman, pihaknya menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya dengan memanfaatkan teknologi budidaya nila dengan sistem bioflok. Selain itu, pemkab menyarankan para petani ikan agar melakukan pergantian pola tebar ikan dari ikan bersisik ke budidaya ikan non sisik.
“Sebab, ikan non bersisik tidak memerlukan pasokan air yang banyak. Lahan perikanan ikan non bersisik tidak membutuhkan air terus mengalir,” ungkap Danang.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budhy Setiawan mengapresiasi langkah pemkab yang telah menyiapkan berbagai strategi dalam menghadani El Nino. Selain memperhatikan produksi ikan, Budhy meminta kepada Pemkab Sleman agar memperhatikan mutu ikan dan jalur distribusi penjualan ikan kepada masyarakat.
“Untuk meningkatkan daya tarik konsumen, distributor dan penjual perlu memperhatikan ikan harus layak konsumsi dan bermutu baik. Serta kemasan produk perikanan juga harus bagus,” tuturnya.
Karena itu, agar produksi, distribusi, dan penjualan ikan berjalan dengan baik, Budhy meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI hadir untuk memberikan pendampingan kepada petani ikan, distributor, dan penjual ikan. Tujuannya agar ikan yang akan dijual dapat dikemas dengan baik sehingga konsumen tertarik untuk membeli.
Ia menjelaskan, ikan memunyai nutrisi yang baik bagi kecerdasan dan tumbuh kembang anak. Karena itu, KKP dan pemerintah daerah harus terus mengkampanyekan makan ikan. Kampanye ini sekaligus untuk menyiapkan terwujudnya generasi emas pada tahun 2045 mendatang. (bam/mg4)










