SLEMAN, Joglo Jogja – Sebanyak 100 siswa dari 10 SMP di Kabupaten Sleman antusias mengikuti Gebyar Batik Sleman di Gedung Dekranasda Sleman, Kamis (26/10) pagi. Kegiatan itu, digelar untuk mengenalkan keberadaan batik khas Sleman Parijoto Salak ke generasi muda agar lestari.
Ketua Harian Dekranasda Sleman Abdul Qadir mengatakan, kegiatan ini dilakukan bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman dan 10 sekolah SMP di Sleman. Menurutny, keberadaan Batik Parijoto Salak perlu untuk dilestarikan. Selain menjadi unggulan bagi Bumi Sembada, keberadaan batik itu harus tetap dipertahankan.
“Ini adalah upaya mengenalkan batik kepada generasi muda. Kita lestarikan budaya kita. Karena budaya ini akan berpengaruh kepada perilaku anak-anak. Kita bisa lihat kerja sama dan fokus mereka yang mau memahami hal yang baru,” terangnya disela-sela acara, Kamis (26/10).
Abdul menambahkan, keberadan Batik Parijoto Salak cukup banyak berpengaruh terhadap perkembangan batik di Sleman. Jika dulu tidak banyak ada pembatik, semenjak dikenalkan dan dilestarikannya Batik Parijoto Salak, jumlah pembatik mengalami peningkatan.
“Ini dibuktikan dengan adanya banyak pembatik dan ratusan pengusaha batik di Sleman,” imbuhnya.
Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih menuturkan, saat ini, jumlah perajin batik di Sleman mencapai sekitar 500 orang. Namun untuk saat ini para perajin batik mayoritas sudah berusia menengah hingga lanjut.
Ia berharap, dengan adanya kegiatan tersebut, generasi muda bisa mengenal batik. Setelah mengenal, kedepannya diharapkan akan ada regenerasi pembatik di Sleman.
“Secara ekonomi, keberadaan batik juga membantu perekonomian masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Gebyar Batik Sleman Nyudi Dwijo Susilo mengatakan, gelaran Gebyar Batik Sleman kali ini adalah kali keenam digelar. Tak hanya batik, kegiatan itu juga menampilkan berbagai produk-produk ekonomi kreatif dari masyarakat.
“Harapannya tak hanya meningkatkan daya beli batik tapi juga mengenalkan dan upaya pelestarian batik ke masyarakat,” harapnya.
Di lokasi yang sama Salah satu peserta kegiatan, Amel, siswa kelas VIII SMPN 2 Sleman mengaku sangat senang dengan kegiatan workshop membatik. Dengan mengikuti kegiatan tersebut ia mengaku dapat menambah pengetahuan dan kreativitasnya.
“Meski awalnya cukup sulit. Karena cukup susah menjaga agar tangan tidak tremor saat membatik, tapi kegiatan ini mengasyikkan dan membuat saya tertarik untuk membatik,” akunya. (bam/all)










