SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang mengajak anak-anak muda untuk mengenali lebih jauh perjalanan rempah-rempah di Kota Atlas. Yakni melalui pameran seni rupa bertajuk ‘Semarang Bercerita dan Biennale Festival’ dalam US Art Exhibition di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 10 Desember 2023.
Koordinator Penyelenggara, Adam Muda mengatakan, anak muda perlu mengetahui bahwa Kota Semarang menjadi salah satu wilayah transit untuk jalur perdagangan rempah dunia sejak abad 16 hingga 20. Selain itu, juga ada beberapa wilayah di pulau Jawa yang merupakan penghasil rempah bumi. Seperti Banyuwangi, Malang, Solo, Jogjakarta, Purworejo, Bandung, dan masih banyak lagi.
“Dari situ di Semarang juga banyak industri jamu karena mudahnya mendapat bahan-bahan rempah. Seperti adanya Nyonya Meneer, Jago, Sido Muncul,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, Kamis (7/12/23).
Lebih lanjut, ia menerangkan, pihaknya mencoba menarik perhatian dari anak-anak muda melalui teknik marketing FOMO atau fear of missing out yang merupakan rasa takut merasa ‘tertinggal’ karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya.
“Dengan cara kita buat viral dengan konten-konten yang ada di media sosial. Hal ini supaya anak-anak muda yang belum pernah ke pasar akhirnya bisa mencium berbagai macam rempah yang ada disini seperti kapulaga, temulawak, secang, cengkeh. Nah itu yang coba kita hadirkan,” jelasnya.
Menurut pantauan Joglo Jateng, dalam pameran jejak rempah ini juga disediakan ruang dimana para pengunjung dipersilakan melukis menggunakan cat yang berasal dari rempah bubuk. Tak sedikit dari mereka sangat antusias sekaligus sumringah saat melukis bersama dengan kawan dekatnya.
“Ini merespon rempah yang bisa menjadi pewarna pada sebuah lukisan seperti ada cabai dan kunyit. Jadi tidak hanya melihat karya seni, tapi juga bisa merasakan dengan menghirup (rempah, Red.),” ungkapnya.
Adapun beberapa rangkaian US yang dapat dikunjungi oleh pengunjung. Seperti contohnya, konser Semarang Bercerita, talkshow potensi dan jejak jalur rempah di Semarang, nonton bareng Semarang gawe film, serta parade seni dan wayang on the street.
“Selain itu ada juga penghargaan, sarasehan, dan lomba foto kreasi paper cut di instagram #smgdimatakita2, dan pergelaran seni Gambang Semarang,” katanya.
Kedepan, dirinya berharap, kegiatan ini bisa diapresiasi serius oleh para pengunjung. Dengan begitu, pihaknya semakin semangat menciptakan inovasi untuk Kota Semarang baik di sektor kesenian seperti ilustrasi, seni rupa murni, dan masih banyak lagi. (cr7/mg4)










