GULE bustaman bisa disebut sebagai salah satu makanan khas Kota Semarang. Teksturnya yang empuk dan rasa gurih yang meresap membuat sajian ini disukai banyak orang.
Salah sau kuliner andalan ini juga mempunyai sejarah yang menarik. Sebab nama ‘bustaman’ diambil dari nama kampung tempat lahirnya gulai kambing ini. Yaitu Kampung Bustaman, yang secara administratif terletak di Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.
Salah satu warga asli Kampung Bustaman yang masih berjualan gulai adalah sepasang suami istri, Hartono Bibit dan Qomariyah. Warung dengan nama Gule Kambing Asli Bustaman Bu Qomariyah itu terletak di Jalan MT. Haryono Nomor 101. Setiap hari, mereka menjual kuliner legendaris tersebut mulai pukul 10.00 hingga sore hari.
Bibit menjelaskan, dirinya telah berjualan gulai kambing selama 23 tahun lalu. Ia pun hanya meneruskan warisan sang mertua yang sudah berjualan sejak 1968.
“Awalnya belum warung begini, tapi dipikul keliling jalan kaki,” jelasnya.
Menurutnya, gule bustaman memiliki cita rasa unik yang berbeda dengan gulai lainnya. Yakni tidak menggunakan santan dan kuahnya menggunakan parutan kelapa yang digoreng hingga kering.
Sayangnya, seiring perkembangan zaman, Bibit mengaku gulai kambing jualannya tidak lagi menjadi primadona. Padahal pada saat pandemi covid-19, ia sempat kebanjiran pesanan.
“Dulu laku banyak, bisa habis 4 kg daging sehari. Sekarang mungkin kurang dari 2 kg,” katanya.
Satu porsi gule bustaman dan nasi dijual dengan harga Rp 20 ribu perporsinya. Sementara jika gulai kambing saja dibandrol dengan harga Rp 42 ribu. (luk/mg4)










