SLEMAN, Joglo Jogja – Harga komoditas beras di Kabupaten Sleman di awal tahun ini melambung tinggi. Bahkan, di sejumlah pasar tradisional berada di angka Rp 13.256 hingga Rp16.000 perkilogram untuk kualitas medium.
Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman Kurnia Astuti mengungkapkan, kualitas beras premium harga tertingginya mencapai Rp 17.000 perkilogram. Penyebab kenaikan ini diduga lantaran pasokan di tingkat petani berkurang akibat cuaca.
“Harga beras yang masih cukup tinggi dan cenderung naik saat ini disebabkan oleh pasokan yang berkurang, karena faktor cuaca. Sehingga berdampak pada proses pengeringan gabah, sehingga pasokan beras berkurang,” terangnya.
Kenaikan harga beras ini sudah berlangsung sekitar dua pekan ini. Harganya berangsur-angsur naik dari rata-rata normalnya Rp 12-13 ribu perkilogram. “Harga rata-ratanya mengalami kenaikan Rp 250 per kilogram beras premium dan untuk kualitas medium Rp 389 per kilogram,” ungkapnya.
Kurnia menambahkan, untuk mengendalikan kenaikan harga beras, Pemerintah Kabupaten Sleman mengupayakan menggelar pasar murah. Sekaligus, pihaknya saat ini masih berkoordinasi dengan Bulog.
Rencananya, pasar murah akan digelar bersama dengan bahan pokok (Bapok) lainnya di 17 kecamatan di Sleman. “Mungkin nanti saat puasa,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Suparmono mengungkapkan, pola tanam padi petani di Sleman, terutama di lahan pertanian bagian barat tahun ini berubah akibat fenomena el nino. Rata-rata baru tanam atau persiapan menanam padi di Desember-Januari.
Padahal biasanya sudah dimulai November-Desember. Hal ini tentu berpengaruh terhadap waktu panen raya padi yang diperkirakan mundur. “Saat ini sebagian lahan sudah tanam, atau dalam proses mau tanam. Sehingga diperkirakan panen raya terjadi pada akhir April atau setelah Lebaran,” katanya.(bam/sam)










