Jelang Ramadan, Harga Daging & Telur Ayam Diprediksi Meroket

Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih
Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman memprediksi komoditas daging sapi dan telur ayam bakal meroket menjelang bulan Ramadan. Meski begitu, instansi terkait mengklaim stoknya masih aman.

Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan, kebutuhan telur ayam dan daging sapi memang cenderung meningkat menjelang bulan puasa dan lebaran. Kondisi itu tentunya akan berpengaruh terhadap dinamika harga kedua komoditas tersebut di pasaran.

“Naiknya permintaan telur ayam maupun daging sapi tidak lepas dari budaya masyarakat. Sebab, akan banyak olahan kuliner yang dibuat dari kedua komoditas tersebut. Seperti rendang atau kue-kuean,” terangnya kepada Joglo Jogja, Rabu (28/2/24).

Mae menambahkan, harga daging sapi saat ini berada pada kisaran Rp130 ribu sampai Rp135 ribu per kilogram. Sementara untuk telur ayam harga per kilogramnya mencapai Rp31 ribu sampai Rp33 ribu. “Nanti yang pasti naik daging sapi kemudian telur juga naik, namun yang paling penting barangnya (stoknya, red) tetap ada,” tegasnya.

Mae juga meminta masyarakat tidak membeli secara berlebihan bahan pokok menjelang bulan Ramadan tahun ini. Hal tersebut penting agar harga komoditas bahan pokok tetap terjaga.

“Pemkab Sleman juga telah bekerja sama dengan Pemkab Blitar untuk memasok kebutuhan telur ayam di Bumi Sembada. Adapun dalam sebulan sekitar 30 ton telur ayam dikirim dari salah satu wilayah di Jawa Timur tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mae mengungkapkan, pada periode April-Mei nanti produksi beras di Kabupaten Sleman juga akan meningkat karena ada panen raya. Selain itu, juga ada rencana dari pemerintah pusat akan melakukan impor beras. “Sehingga harapannya beras akan kembali ke HET (harga eceran tertinggi). Yakni, beras medium Rp10.900 dan beras premium Rp13.800 per kilogram,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengungkapkan, produksi padi pada musim tanam pertama tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Faktornya disebabkan karena anomali cuaca El Nino yang berlangsung dari Oktober 2023 hingga awal tahun 2024.

“Kondisi tersebut tentunya mempengaruhi peningkatan harga jual gabah maupun beras. Lantaran stoknya menipis, namun permintaan tetap masih tinggi,” ungkapnya.

Suparmono memprediksi, pada Maret 2024 produksi padi mulai meningkat dan mencapai puncaknya atau panen raya di April. Adapun perkiraan luas lahan yang panen dari Maret hingga April mencapai 10 ribu hektare dengan produksi beras mencapai 37 ribu ton.

“Jumlah itu diharapkan mampu mencukupi kebutuhan selama bulan Ramadan dan lebaran nanti, serta menjawab kekhawatiran stok pangan,” tandasnya. (bam/abd)