SUKOHARJO, Joglo Jateng – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Sosial Kabupaten/Kota berkomitmen untuk menurunkan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Hal itu dilakukan melalui bantuan sosial kepada Kelompok Usaha Bersama (Kube) di 35 Kabupaten/Kota. Termasuk Kabupaten Sukoharjo, oleh sebab itu Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) lanjutan Kube di Aula Dinsos Sukoharjo, pada Rabu (2/10).
Sebanyak 11 Kube dengan total peserta sebanyak 60 orang mengikuti Bimtek Fasilitasi Bantuan Pengembangan Ekonomi Masyarakat Tahun 2024. Para peserta yaitu anggota Kube yang telah mendapatkan Bantuan Queensland 2022. Acara tersebut diinisiasi langsung oleh Dinsos Sukoharjo, dan menghadirkan tiga narasumber dari Dinsos Jateng, yaitu Heru Sunoto, Artiek Noro Indras, dan Febrian SJ.
Dinsos Sukoharjo merupakan salah satu Dinsos di Jateng yang mempunyai inisiatif dan inovasi pemberdayaan. Terbukti bahwa Dinsos Sukoharjo pernah membawa 50 pengurus Kube-nya untuk melakukan Study Tour ke Yogyakarta.
Dalam kesempatan itu, Sub Koordinator Penanganan Fakir Miskin Perkotaan dan Daerah Rentan Dinsos Jateng, Heru Sunoto menyebutkan, guna mendukung pemberdayaan masyarakat dan mengatasi tingkat kemiskinan di Jawa Tengah, pemerintah memfasilitasi modal usaha dan bimbingan usaha kepada masyarakat Jawa Tengah melalui Kube. Menurutnya penanganan kemiskinan akan lebih mudah dilakukan dengan pendampingan usaha per-kelompok.
“Kube ini bisa memudahkan pemerintah mengatasi kemiskinan dari aspek kegiatan pemberdayaan, yaitu melalui modal usaha serta entrepreneurship manajemen. Melalui upaya penyelesaian masalah perekonomian yang dilakukan secara perkelompok,” terangnya kepada Joglo Jateng, Kantor Dinsos Sukoharjo, Rabu (2/10/24).
Ia menambahkan, kelompok usaha bersama ini terdiri dari keluarga miskin yang dibentuk dan tumbuh atas prakarsa melaksanakan usaha ekonomi produktif dengan tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan sosial keluarga. Heru menuturkan, Kube yang beranggotakan 10 orang itu harus dari masyarakat miskin yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
“Ada empat hal yang bisa didapatkan dalam pendampingan Kube. Yaitu aspek hubungan sosial, kelembagaan dan manajemen, kemajuan ekonomi dan teknis administrasi pelaporan,” imbuhnya.
Menurutnya, dalam aspek ekonomi, kelompok Kube di Sukoharjo masih banyak terkendala dengan saingan usaha, pemasaran, dan pendapatan yang belum sesuai. Sedangkan pada aspek sosial, belum kompaknya anggota kelompok, lantaran masih ada yang bekerja di pabrik. Sementara melalui aspek manajemen, terjadinya usulan ganti usaha saat sudah berjalan. Termasuk aspek kelembagaan yang terkendala dalam pembagian tugas tiap anggotanya.
Lanjutnya, Kabupaten Sukoharjo adalah kabupaten dengan tingkat kemiskinan sebesar 7,47 persen, jumlah tersebut lebih kecil dari rata-rata tingkat kemiskinan di Jateng yang berada di angka 10,47 persen. Akan tetapi penduduk miskin sebanyak 68.150 jiwa atau 14.000 KK dari total penduduk sebesar 932.680 jiwa itu, tetap butuh dukungan Pemerintah Provinsi Jateng dan pusat agar angka kemiskinan dapat diturunkan lebih signifikan lagi.
Heru menilai, Jawa Tengah memiliki banyak potensi yang bisa dijadikan sebagai modal pertumbuhan ekonomi daerah. Baik di bidang industri, pertanian, perdagangan maupun jasa. Tak terkecuali Sukoharjo yang memiliki julukan The House of Souvenir yang berpotensi sebagai ladang perekonomian masyarakat khususnya di sektor pariwisata.
“Kami membuka Bansos Kube ini setiap tahun. Kami berharap mereka bisa berkomitmen melalui diskusi berbagi pengalaman dan saling membantu. Sehingga tetap eksis dan terus maju,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinsos Kabupaten Sukoharjo Suparmin menuturkan, adanya bantuan Kube dari Disnsos Jateng merupakan wujud keberpihakan Negara kepada masyarakat miskin. Pihaknya berharap agar penerima bantuan jangan langsung lenyap usai menerima bantuan, diupayakan untuk terus maju berkembang. Sehingga tujuan Kube untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan dapat tercapai.
“Mentoring yang keberlanjutan dari para pendamping bagi masing-masing Kube ini sangat penting. Sehingga saya berharap bantuan ini dapat berdampak dan bisa menjadikan Kube di Sukoharjo menjadi pengusaha sukses dan taraf ekonominya meningkat,” ungkapnya.
Suparmin menambahkan, pihaknya ingin agar nantinya Kube berprestasi di Kabupaten Sukoharjo dapat melakukan studi banding di daerah lain. Seperti studi banding di Yogyakarta, sehingga memiliki pandangan lain atau inisiatif untuk pengembangan Kube di Sukoharjo.
“Mentoring atau bimtek yang sudah diberikan oleh Dinsos Jateng ini harapan saya bisa menjadi motivasi Kube di Sukoharjo untuk berlomba-lomba menjadikan Kube nya sebagai yang terbaik. Sehingga nantinya semua Kube Sukoharjo masuk dalam kategori bintang 4 semua (yang terbaik),” tandasnya. (all/sam)










