PWI-LS Butuh Minta Forkopimcam Tolak Penceramah Provokatif

Kapolsek Butuh, Iptu Irfan Sofar saat acara dialog yang diadakan oleh PWI-LS Kecamatan Butuh. (MARNIE/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Polemik nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad SAW yang ada di Indonesia, masih menjadi pro dan kontra. Memasuki Bulan Maulud banyak agenda pengajian yang diadakan oleh masyarakat.

Karena itulah, Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo,meminta pada Forkopimcam untuk bersama-sama menolak para penceramah provokatif. Hal itu disampaikan oleh Ketua PWI-LS Kecamatan Butuh, Kiai Slamet Ilyam dalam dialog dengan Forkopimcam Butuh di Omah Joglo Klepu, Selasa (05/08/2025).

Dialog dihadiri oleh Kapolsek Iptu Irfan Sofar, Danramil 06/Butuh Kapten Czi Hadiyanto, anggota DPRD Kabupaten Purworejo Fraksi PPP, KH Akhmad Tawabi, Sekcam Butuh, Wakil Ketua PWI-LS Kabupaten Purworejo Fuad Zuhri dan pengurus lainnya.

“Jika ada kiai yang provokatif dalam ceramahnya, marilah kita bisa duduk bersama. Jangan sampai kejadian di Pemalang ataupun di Kutoarjo Bersolawat terulang di Butuh khusunya dan di Kabupaten Purworejo umumnya. Dengan adanya organisasi Perjuangan Walisongo, kami sering kena fitnah negatif, sebagai pengadu domba, dituduh PKI gaya baru. Mari kita bersama menyamakan persepsi agar hal-hal itu bisa dicegah,” kata Kiai Ilyam dalam pengantarnya.

Ketua PWI-LS Kecamatan Butuh, Kiai Slamet Ilyam (berdiri) saat dialog dengan Forkopimcam Butuh. (MARNIE/JOGLO JATENG)

Wakil Ketua PWI-LS Kabupaten Purworejo, Fuad Zuhri bereaksi keras dengan tudingan sebagai neo PKI. “PWI LS dituding sebagai neo PKI sama sekali tidak benar. Kami ada untuk menjaga marwah Kiai Nusantara karena ada yang mencoba menafikkan perjuangan Kiai Nusantara dan Wali Songo. Kami juga berjuang mencegah munculnya glorifikasi terhadap marga keturunan Nabi dengan ajaran sesat yang tidak sesuai dengan akidah kita. Kelakuan tidak seperti Zuriah Nabi dan membahayakan akidah kaum muslim,” kata Fuad.

Ia melanjutkan, tujuan didirikannya PWI-LS adalah untuk menjaga kondusivitas dengan cara, tidak mengundang penceramah yang hanya memprovokasi. “Jika ada yg mengundang, kiai provokatif, mohon dikoordinasikan,” pintanya.

Saat ini, tambahnya, mereka sudah berusaha mengaburkan sejarah Kemerdekaan RI, sejarah berdirinya NU dsn bahkan bendera merah putih pun diklaim hasil pemikiran klan mereka. “Mereka berusaha mengaburkan sejarah kita dan mengabarkan sejarah baru sesat versi mereka. Hal inilah yang harus kita lawan,” kata Fuad.

Dalam kesempatan inu, Kapolsek dan Danramil sepakat untuk menjaga kondusivutas di wilayah Kecamatan Butuh. Mereka juga meminta agar jika ada kiai yang dianggap provokatif akan mengisi ceramah, semua pihak duduk bersama untuk membicarakan solusinya.

Sementara itu, Kiai Akhmad Tawabi mengatakan, tugas PWI-LS sangat berat karena harus berjuang meluruskan sejarah yang berusaha dibelokkan oleh oknum-oknum. Kiai Tawabi juga meminta agar semua pihak mewaspadai pihak-pihak yang ingin merongrong NKRI. (mrn/rds).