Demak  

Akreditasi Perpustakaan SD dan SMP di Demak Masih Rendah, Ini Kendalanya

Perpustakaan Daerah (Perpusda) Pemkab Demak
ASIK: Pengunjung sedang memilih buku di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Pemkab Demak, Selasa (18/1/22). (LU'LUIL MAKNUN /JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinperpusar) Kabupaten Demak terus mendorong percepatan akreditasi perpustakaan di tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama. Namun, hingga pertengahan 2025, progres akreditasi masih dinilai rendah. Khususnya di jenjang SD dan SMP, jika dibandingkan dengan sekolah menengah atas (SMA) yang sudah lebih proaktif.

‎‎Ketua Tim Layanan Perpustakaan Dinperpusar Demak, Parmono menyebut, tantangan utama datang dari rendahnya kesadaran sekolah akan pentingnya akreditasi perpustakaan. Menurutnya, masih banyak kepala sekolah yang belum menganggap perpustakaan sebagai bagian penting dalam menunjang kualitas pendidikan.

‎‎”Untuk jenjang SD dan SMP, hampir bisa dikatakan belum ada yang mengajukan akreditasi secara mandiri. Kami sudah melakukan sosialisasi dan pembinaan, tapi respons dari sekolah masih rendah,” ujarnya.

‎‎Ia menjelaskan, sebagian besar kepala sekolah masih menganggap akreditasi perpustakaan bukanlah prioritas. Padahal, hal tersebut merupakan salah satu instrumen penting dalam penilaian akreditasi sekolah secara keseluruhan.

‎‎”Selama ini, akreditasi sekolah hanya melihat fisik perpustakaannya. Padahal akreditasi perpustakaan itu menyeluruh, dari layanan, koleksi, tenaga perpustakaan, hingga sistem pengelolaannya. Itu yang sering luput dari perhatian,” tambahnya.

‎‎Parmono juga menyoroti minimnya koleksi buku pengetahuan umum di perpustakaan sekolah. Khususnya SD dan SMP. Menurutnya, banyak sekolah masih mengalokasikan anggaran pembelian buku hanya untuk buku paket pelajaran. Padahal seharusnya pengadaan buku pengetahuan umum juga wajib dilaksanakan guna memenuhi standar akreditasi perpustakaan.

‎‎”Kami melihat banyak sekolah hanya fokus pada pengadaan buku paket untuk keperluan belajar mengajar. Padahal perpustakaan seharusnya menyediakan buku-buku pengetahuan umum, literatur bacaan, dan referensi lain yang menunjang pengembangan wawasan siswa,” jelasnya

‎‎Faktor lain yang menghambat adalah keterbatasan ruang. Ia mengungkapkan banyak gedung perpustakaan yang justru digunakan sebagai ruang kelas karena keterbatasan fasilitas.