Kisah Slamet Rois: Bertaruh Nyawa di Puncak Pohon 15 Meter Demi Durian Legendaris Semarang

SATU PER SATU: Durian hasil panen dikumpulkan Slamet, Rabu (15/10/25). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SIANG terik tak menghalangi langkah Slamet Rois (42) untuk memanjat pohon durian setinggi 15 meter di kawasan Mijen, Semarang. Dengan hanya berbekal tali dan golok, ia lincah meniti batang pohon demi memetik durian milik Kholil, varietas legendaris asal Semarang yang telah terkenal hingga ke luar Jawa Tengah.

“Ini sudah masak di pohon. Katanya Pak Kholil, peminatnya banyak,” ujar Rois sambil menurunkan durian seberat 4,5 kilogram yang tampak ranum dan beraroma kuat.

Sudah sepuluh tahun Rois bekerja sebagai pemetik durian. Setiap musim panen, tenaganya selalu dibutuhkan para pemilik kebun. Ia yakin, cuaca panas seperti sekarang justru membuat kualitas buah lebih baik.

“Durian yang matang di pohon rasanya lebih manis, warnanya juga lebih cerah,” ujarnya.

Pemilik kebun, Mohammad Kholil, membenarkan pertengahan Oktober adalah waktu ideal untuk panen. “Cuacanya pas, panas tapi tidak ekstrem. Sekarang yang dipetik durian Kholil dan durian Kunir,” jelasnya.

SEMANGAT: Slamet Rois (42) menunjukkan hasil durian yang dipanennya. (LU’LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

Durian Kholil merupakan varietas lokal unggulan yang pernah menjuarai kontes durian nasional. Rasanya manis legit, dagingnya pulen, dan aromanya khas. “Durian Kholil ini sudah dikenal sejak lama, cita rasanya tidak berubah,” kata Kholil bangga.

Bagi Kholil, durian Kholil bukan sekadar buah unggulan, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga. Ia memiliki beberapa petak kebun berisi beragam varietas durian lokal seperti Kholil, Kunir, dan Teno.

“Kalau tidak dirawat, varietas ini bisa hilang. Padahal durian Kholil sudah jadi kebanggaan warga Mijen,” tuturnya.

Sore itu, di antara tumpukan durian hasil panen, aroma manis khas durian memenuhi udara. Rois kembali memanjat pohon lain, tetap gesit meski harus bertaruh nyawa. Ketika ditanya apakah tak takut jatuh, ia hanya tersenyum kecil.

“Sudah biasa. Yang penting hati-hati. Kalau lihat hasilnya bagus, rasa lelah langsung hilang,” ujarnya sambil mengikat tali ke batang pohon berikutnya. (luk/iza)