Atasi 1,6 Juta Pengangguran Vokasi, Pemerintah Luncurkan Program SMK Go Global

Deputi Kemenko PMK Leontinus Alpha Edison saat memaparkan program SMK Go Global dalam workshop penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi di Semarang.
SUASANA: Workshop Kepala Sekolah Global Untuk Program SMK Go Global di Semarang. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi yang tertinggi secara nasional. Data mencatat, sekitar 1,6 juta lulusan vokasi belum terserap dunia kerja. Hal ini menandakan adanya tantangan serius dalam penyaluran tenaga kerja di sektor ini.

Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah meluncurkan program SMK Go Global. Program ini menargetkan penyiapan 500 ribu pekerja melalui peningkatan kompetensi teknis, kemampuan bahasa, hingga mentalitas kerja.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Kemenko PMK, Leontinus Alpha Edison menegaskan, program tersebut bukan semata-mata soal penempatan pekerja, namun juga pembekalan menyeluruh.

“Sekitar 500 ribu pekerja yang akan kita siapkan skill-nya, skill bahasanya, juga kesiapan mental dan pengetahuan budaya negara tujuan,” ujarnya dalam workshop SMK Go Global di Semarang, kemarin.

Peluang di Berbagai Negara

Leontinus menjelaskan, sejumlah negara telah menyatakan kebutuhan tenaga kerja Indonesia. Negara-negara seperti Jepang, Jerman, Turki, Slovakia, Singapura, hingga Uni Emirat Arab membuka peluang untuk bidang caregiver, hospitality, welder, dan profesi lainnya.

Ia menyebut banyak lulusan SMK memiliki talenta besar namun sering kali terkendala akses informasi kerja yang valid.

“Kita harus rajin turun ke lapangan agar informasi yang sampai tidak hoaks dan tidak menjerumuskan ke praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” tegasnya.

Workshop tersebut mempertemukan pihak sekolah dengan mitra resmi seperti JIKA Expert dan Asosiasi Penyelenggara Pemagangan Indonesia. Tujuannya untuk memaparkan standar global, mulai dari kurikulum hingga etika kerja yang dibutuhkan di luar negeri.

Wajibkan Kelas Bahasa Asing

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng, Sadimin menyatakan bahwa SMK harus berani meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui sinkronisasi kurikulum, magang industri, hingga kewajiban membuka kelas bahasa asing.

“Menurut saya, semua SMK harus punya kelas Bahasa Inggris, Jepang, Korea, atau Mandarin. Langkah ini dapat membuka ruang bagi lulusan SMK tampil di pasar global,” kata Sadimin.

Ia berharap program SMK Go Global tidak berhenti sebagai seremoni semata, tetapi menjadi gerakan bersama sekolah, pemerintah daerah, dan industri. “Tujuannya jelas, untuk menekan angka pengangguran lulusan vokasi,” pungkasnya. (hfh/adf)