SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah bergerak cepat melakukan evaluasi pasca insiden meninggalnya dua peserta dalam ajang Siksorogo Lawu Ultra 2025. Peristiwa nahas tersebut terjadi saat lomba lari trail berlangsung di kawasan Gunung Lawu pada Minggu (7/12/2025).
Berdasarkan penelusuran, kedua korban diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan yang tidak disampaikan secara jujur saat proses registrasi ulang. Hal ini menjadi catatan serius bagi pemerintah provinsi maupun penyelenggara kegiatan olahraga ekstrem.
Kepala Disporapar Jateng, Muhamad Masrofi, menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh tahapan pelaksanaan di lapangan sebenarnya telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, termasuk pemeriksaan kesehatan awal dan kesiapan tim medis.
Pentingnya Kejujuran Riwayat Kesehatan
Masrofi menyoroti faktor krusial yang kerap diabaikan peserta, yakni keterbukaan mengenai kondisi kesehatan pribadi. Menurutnya, ketidakjujuran peserta mengenai riwayat penyakit sangat berpengaruh pada mitigasi risiko di lapangan.
“Panitia sudah jalankan SOP, tapi perlu keterbukaan peserta soal riwayat penyakit bawaan. Ini sangat berpengaruh pada risiko di lapangan,” ujar Masrofi saat ditemui di kantornya, Selasa (9/12/25).
Ia menjelaskan, kedua korban memiliki kondisi kesehatan yang seharusnya menjadi pertimbangan serius sebelum memutuskan ikut serta. Satu peserta diketahui mengalami serangan jantung, sementara peserta lainnya memiliki riwayat asma yang sangat rentan kambuh saat terpapar udara dingin di ketinggian.
“Tes kesehatan standar saat pengambilan race pack memang ada, seperti cek tensi dan suhu tubuh. Namun, kalau peserta jujur mengakui ada penyakit jantung atau paru, pasti tak kami izinkan untuk start,” terangnya.
Evaluasi Menyeluruh dan Perluasan Asuransi
Secara teknis, Masrofi menambahkan bahwa panitia telah mengerahkan sumber daya yang masif. Lebih dari 1.000 personel yang terdiri dari sukarelawan, marshal, tim evakuasi, dan tenaga medis profesional telah disiagakan di sepanjang rute. Informasi titik medis serta weather station juga telah disosialisasikan melalui media sosial sebelum lomba dimulai.
Meski demikian, kejadian ini tetap menjadi bahan evaluasi besar bagi pemerintah daerah dan penyelenggara event olahraga serupa di masa depan. Disporapar mendorong agar penyelenggara memperketat aspek kesehatan dan meninjau ulang cakupan asuransi bagi peserta.
“Aspek keamanan dan kesehatan harus jadi perhatian utama, termasuk memperluas cakupan asuransi. Bukan hanya untuk kecelakaan teknis, tapi juga harus mencakup kondisi kesehatan internal peserta yang mungkin terjadi saat lomba,” tegasnya.
Masrofi juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak mengukur kemampuan fisik. Ia meminta peserta yang memiliki penyakit bawaan untuk mempertimbangkan ulang sebelum mengikuti kegiatan yang menguras fisik ekstrem seperti trail run, maraton, atau lomba pendakian. Edukasi mengenai batas kemampuan tubuh menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa terulang. (hfh/adf)










